Retno kemudian menjabat sebagai sebagai Direktur Kerjasama Intra dan Antar Regional Amerika dan Eropa pada 2001-2003, diteruskan dengan menjadi Direktur Eropa Barat pada 2003-2005.

Sebelum menjadi menlu, Retno juga sempat menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia pada 2005-2008, dilanjutkan dengan menjadi Direktur Jenderal Amerika dan Eropa pada 2008-2012.

Retno menuturkan, perjalanannya tak mulus untuk menjadi diplomat. Namun, ia ingat pesan ibunya untuk tidak berputus asa.

Bagi Retno, nilai kedua orang tuanya untuk mengutamakan pendidikan juga tertanam kuat pada dirinya. Untuk itu, ia menilai penting untuk berinvestasi dalam pendidikan untuk menggapai cita-cita dan tujuan.

"I was nobody. Saya bukan siapa-siapa. Tapi, ibu-bapak saya memilih pendidikan sebagai top priority. Tanpa pendidikan, saya tidak akan berhasil mencapai impian saya. Dalam perjalanan saya, saya menemukan banyak tantangan. Tapi ibu saya selalu mengatakan, 'Jangan berputus asa', dan saya tidak berputus asa," tuturnya.

Retno mengatakan, pendidikan juga merupakan kunci untuk memutus siklus ketimpangan dan meningkatkan taraf hidup. Dengan bekal pendidikan, ia menjelaskan, orang jadi berani bermimpi besar, mengembangkan potensi, dan menciptakan peluang yang lebih baik bagi dirinya dan keluarga, serta berdampak dan memajukan sekitarnya.

Alumnus UGM ini kini menjadi Senior Advisor Jardine Foundation, yayasan pendidikan dari perusahaan investasi Jardine Matheson. Setelah memberikan beasiswa pascasarjana di University of Oxford dan University of Cambridge, Inggris, yayasan ini juga membuka beasiswa Jardine di UGM setiap tahun akademik.

"Dalam pembicaraan (dengan UGM), ada pembicaraan mengenai mentoring, dan saya bilang 'I'm more than happy to be one of the mentors untuk anak-anak'," tutur Retno.