Hanya dalam kurun waktu delapan bulan menekuni dunia digital, doa yang ia langitkan terbayar lunas.
Riska berhasil melunasi dan mengambil alih (take over) satu unit rumah impian, serta membangun dua pintu rumah kontrakan. Dari orang yang pernah diusir karena menunggak sewa, ia kini resmi menjadi 'juragan' kontrakan.
"Rasanya sujud syukur sambil menangis sejadi-jadinya. Dulu saya diusir, sekarang alhamdulillah tiap bulan orang yang bayar kontrakan ke saya. Kontrakan itu sekarang diurus bapak saya. Kalau ada yang telat bayar satu-dua hari, saya cuek saja dan maklumi, karena saya pernah merasakan betul betapa pedihnya berada di posisi itu. Bagi saya, rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi obat dari segala luka dan rasa sakit yang pernah kami lewati," ujar Riska dengan mata berkaca-kaca.
Jika waktu bisa diputar kembali ke tahun 2023 saat dirinya sedang menahan lapar, Riska hanya ingin membisikkan satu hal kepada dirinya sendiri.
"Mungkin saat itu saya akan berpesan, jangan menyerah. Terus berusaha dan berdoa. Allah sedang mempersiapkan hadiah buat kamu yang hari ini sedang kelaparan. Jangan jauh dari Allah, karena harapan itu nyata ada di masa depan," lirihnya.
Kepada para ibu yang sedang berjuang di titik terendah, Riska menitipkan pesan penguat. Untuk menghapadi pahit dan manisnya kehidupan.
"Apapun yang sedang dihadapi hari ini, pahit ataupun manis, syukuri dan jalani. Tetap berbuat baik, jangan jauh dari Allah, dan terus berusaha. Karena apa yang kita kerjakan hari ini adalah tabungan untuk masa depan," pesannya.
Di balik keteguhan hati Riska, ada luka mendalam yang dipendam sang suami, Adi Al Muttaqin Pondanda.
Pria asal Jampang Kulon ini tak berdaya menafkahi keluarga lantaran menderita saraf kejepit.
"Penyakit saraf kejepit itu sebenarnya sudah mulai terasa sejak 2012, tapi puncaknya paling parah saat pandemi tahun 2021 sampai saya tidak bisa jalan sama sekali sampai hari ini. Berbagai ikhtiar medis dan terapi sudah dijalani," terang Adi.