NADIKABAR.COM — Ada masa ketika langkah kaki Riska Mulya (30) terasa begitu berat hanya untuk sekadar melangkah ke warung tetangga. Bukan karena jarak yang jauh, melainkan tatapan sinis dan bisik-bisik pergunjingan lingkungan yang meremukkan mentalnya.
Tahun 2023 menjadi titik nadir dalam lembar kehidupannya: ia diusir dari kontrakan, menahan perihnya kelaparan, dan mendekap erat dua buah hatinya yang menangis meminta makan.
Kisah pahit perempuan kelahiran Sukabumi, 11 September 1995 ini bermula di sebuah kontrakan di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Krisis ekonomi yang mendera membuat keluarganya menunggak sewa hingga terpaksa angkat kaki.
Demi menghemat ongkos angkut barang, Riska mencari kontrakan baru yang tak jauh dari lokasi lama. Namun, kepindahan itu justru berbuah cibiran tetangga.
"Di situ titik terendah saya. Diusir, pindah, lalu digosipin tetangga sampai saya kena mental. Mau keluar ke warung saja harus tengok kanan-kiri karena takut tatapan mata yang sinis. Saya benar-benar mengurung diri di rumah," tutur Riska saat berbincang dengan NadiKabar, Rabu (9/9/2026). Di sudut ruangan sempit itu, air mata Riska kerap menetes di atas sajadah.
"Doa saya waktu itu sangat spesifik: 'Ya Allah, angkat derajat keluargaku kembali. Aku cuma ingin salat dalam keadaan tenang dan perut kenyang, tanpa mendengar tangisan anak-anak yang kelaparan meminta makan.' Saya juga bilang capek pindah-pindah dan dimarah-marahi pemilik kontrakan karena telat bayar, saya minta punya rumah sendiri," kenang Riska.
Kala itu, Riska sempat mencari jalan keluar dengan berniat bekerja di Jakarta. Tawaran posisi di Bappenas bahkan sudah di depan mata.
"Waktu itu teman sempat mengajak kerja di Bappenas di Jakarta. Portofolio dan surat lamaran sudah saya buat semua. Tapi saya hitung lagi secara matematika dan batin, anak saya masih usia satu tahun dan masih menyusu ASI, suami juga sakit tidak bisa jalan. Siapa yang mau merawat mereka? Akhirnya semua berkas saya batalkan, saya tidak jadi berangkat," ungkapnya.
Dari balik bilik kontrakan yang tertutup rapat, Riska menolak menyerah. Di penghujung Desember 2023, bermodalkan uang pinjaman dari dua orang temannya, ia mendaftar pelatihan digital. Ponsel pintar yang tadinya sekadar untuk menyibukkan diri di rumah, ia sulap menjadi ladang ikhtiar.
Awalnya rasa minder sempat menyergap. Riska merasa dirinya hanyalah ibu rumah tangga kampung yang berpenampilan biasa saja dan tidak pandai merangkai kata di depan kamera. Namun, desakan kebutuhan dapur menghapus semua rasa ragu. Ikhtiar dari sudut kamar itu berbuah manis. Tepat pada hari ke-10, komisi pertamanya senilai Rp 250 ribu berhasil ia kantongi dari penjualan produk digital. Perlahan tapi pasti, roda nasib mulai berputar.
Konsistensinya membangun akun TikTok membawanya menjadi edukator resmi hingga menyabet sertifikat bergengsi sebagai Official Affiliate Education Partner dari TikTok Shop.
Hanya dalam kurun waktu delapan bulan menekuni dunia digital, doa yang ia langitkan terbayar lunas.
Riska berhasil melunasi dan mengambil alih (take over) satu unit rumah impian, serta membangun dua pintu rumah kontrakan. Dari orang yang pernah diusir karena menunggak sewa, ia kini resmi menjadi 'juragan' kontrakan.
"Rasanya sujud syukur sambil menangis sejadi-jadinya. Dulu saya diusir, sekarang alhamdulillah tiap bulan orang yang bayar kontrakan ke saya. Kontrakan itu sekarang diurus bapak saya. Kalau ada yang telat bayar satu-dua hari, saya cuek saja dan maklumi, karena saya pernah merasakan betul betapa pedihnya berada di posisi itu. Bagi saya, rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi obat dari segala luka dan rasa sakit yang pernah kami lewati," ujar Riska dengan mata berkaca-kaca.
Jika waktu bisa diputar kembali ke tahun 2023 saat dirinya sedang menahan lapar, Riska hanya ingin membisikkan satu hal kepada dirinya sendiri.
"Mungkin saat itu saya akan berpesan, jangan menyerah. Terus berusaha dan berdoa. Allah sedang mempersiapkan hadiah buat kamu yang hari ini sedang kelaparan. Jangan jauh dari Allah, karena harapan itu nyata ada di masa depan," lirihnya.
Kepada para ibu yang sedang berjuang di titik terendah, Riska menitipkan pesan penguat. Untuk menghapadi pahit dan manisnya kehidupan.
"Apapun yang sedang dihadapi hari ini, pahit ataupun manis, syukuri dan jalani. Tetap berbuat baik, jangan jauh dari Allah, dan terus berusaha. Karena apa yang kita kerjakan hari ini adalah tabungan untuk masa depan," pesannya.
Di balik keteguhan hati Riska, ada luka mendalam yang dipendam sang suami, Adi Al Muttaqin Pondanda.
Pria asal Jampang Kulon ini tak berdaya menafkahi keluarga lantaran menderita saraf kejepit.
"Penyakit saraf kejepit itu sebenarnya sudah mulai terasa sejak 2012, tapi puncaknya paling parah saat pandemi tahun 2021 sampai saya tidak bisa jalan sama sekali sampai hari ini. Berbagai ikhtiar medis dan terapi sudah dijalani," terang Adi.
Sebagai seorang kepala keluarga, kelumpuhan fisik tersebut meruntuhkan mentalnya. Tahun 2023 menjadi puncak ujian hidup terberat bagi Adi hingga ia berada di titik keputusasaan tertinggi.
"Beban mental luar biasa, jujur saya waktu itu sudah menyerah, sudah angkat bendera putih ke Allah. Saya tetap salat, tapi sampai malas berdoa karena bingung mau minta apa lagi, da mustahil Allah tidak tahu kondisi hamba-Nya. Kalau kata orang Jampang mah istilahnya tog maung tog badak, mati sekarang atau hidup sekarang pasrahkan saja. Kita mengadu ke manusia pun tidak ada yang memberi solusi," kenang Adi.
Meski demikian, Adi bertekad tidak menampakkan keluhan sedikit pun di hadapan sang istri. Di tengah kondisinya yang terbaring kaku, ia melihat potensi lain dalam diri Riska.
"Saya tidak pernah mengeluh di depan istri agar tidak menambah beban. Saya bilang ke dia, 'Yuk, kita bagi tugas dulu. Menafkahi memang wajibnya suami, tapi dengan kondisi fisik saya seperti ini, kamu punya potensi di public speaking. Kamu harus yakin pada kemampuanmu yang tidak diketahui orang lain.' Awalnya dia membantah karena kurang percaya diri, tapi saya terus yakinkan," jelas Adi.
Prinsip Adi sangat tegas. Di masa-masa sulit itu, ia melarang keras istrinya menjadi buruh pabrik atau bekerja di instansi pemda meski peluang itu ada.
"Saya tidak mengizinkan istri kerja di pabrik atau Pemda. Saya bilang, 'Kamu cukup urus anak di rumah. Mustahil Allah menghidupkan kita tanpa mendatangkan rezekinya. Kita tuntut perjanjian rezeki dari Allah hari ini, jangan sampai goyah keyakinan.' Dan ternyata dia masuk kelas digital itu ambil langkah sendiri pakai uang pinjaman dari temannya tanpa sepengetahuan saya," ungkap Adi sambil tersenyum kecil.
Kini, melihat sang istri berhasil melewati badai hidup dan menggapai kesuksesan, rasa haru menyelimuti hati Adi.
"Yang paling membuat saya terharu, dia tampak jauh lebih dewasa. Manajemen dirinya berubah, pola pikirnya berkembang sangat matang seiring perannya menjadi edukator bagi banyak klien. Dia benar-benar didewasakan oleh keadaan," tuturnya.
Saat diminta menggambarkan sosok Riska Mulya yang telah membalikkan nasib keluarga dari titik nol, sang suami hanya menyematkan satu kata penuh makna.
"Bangga. Sudah, selesai," pungkasnya.