NADIKABAR.COM β Prancis dihantam kerusuhan setelah demonstrasi soal tuntutan biaya hidup. Etalase toko hancur dijarah hingga kendaraan dibakar. Para pemilik toko yang dijarah pun mengungkapkan kesedihan mereka.
Dilansir BBC dan surat kabar lokal Le Monde, kerusuhan ini menghantam kawasan Place de la RΓ©publique, pada Sabtu (17/10/2026). Tumpukan pakaian dan perabotan tampak berserakan di lantai toko-toko.
Salah satu pemilik toko, Hassan, mengungkapkan dirinya tak percaya dengan kondisi ini. Dia bingung dengan apa yang harus ia lakukan setelah ini.
"Saya tidak bisa. Ini adalah hidup saya. Seluruh hidup saya di sini. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan," ujarnya sehari setelah kerusuhan.
Dia menjelaskan bahwa ia memiliki asuransi. Namun, asuransi tidak menjamin seluruh kerugian akibat penjarahan ini.
"Saya punya asuransi, tetapi tidak semuanya ditanggung karena hukum di Prancis. Asuransi tidak menanggung semua hal dari hidup saya di sini di Paris selama 10 tahun. Saya tidak tahu," ungkapnya.
Selain itu, ada juga cerita dari pria bernama Malaine, yang telah mengelola salon rambut di 10 Boulevard Magenta, Paris, selama 12 tahun terakhir.
"Saya harus melindungi toko saya untuk malam ini," ujarnya sambil berdiri di depan etalase tokonya yang telah hancur.
Di sampingnya, sang istri-yang juga merupakan manajer salon tersebut-menangis di tengah hamparan majalah yang terinjak-injak, kursi-kursi yang terbalik, dan cermin-cermin yang pecah.
"Mereka mengambil semuanya: peralatan rias, mesin kopi, bahkan mesin kasir. Saya tidak mengerti, kami sama sekali tidak terlibat dalam semua ini," ungkap pria itu dengan mimik kebingungan.
Sebelumnya, diberitakan kerusuhan menghantam Paris. Etalase toko hancur, mobil-mobil hangus terbakar, sepeda-sepeda menjadi arang, serta tumpukan pecahan kaca dan puing-puing berserakan di trotoar kota Paris.
Polisi menangkap sekitar 1.800 orang pada hari Sabtu (17/10). Ada kurang lebih 550.000 pengunjuk rasa turun ke jalan dalam aksi yang sebagian besar awalnya berlangsung damai.
Mereka berunjuk rasa memprotes kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, serta memburuknya layanan publik, termasuk di sektor pendidikan.
Kelompok perusuh-beberapa di antaranya berpakaian serba hitam serta mengenakan masker dan penutup kepala (balaclava)-juga muncul di Paris, Marseille, dan sejumlah kota lainnya; beberapa dari mereka bahkan membakar mobil serta bangunan.
Penjarahan massal terjadi di berbagai kota, termasuk Paris, Marseille, dan Lille, serta beberapa wilayah lainnya.
Di Paris, para pengunjuk rasa terlibat bentrokan dengan polisi antihuru-hara, yang kemudian mengerahkan gas air mata dan meriam air ke arah massa. Sepanjang hari, sejumlah kelompok menyalakan api di jalanan dan membakar kendaraan. Setidaknya satu restoran ludes dilalap api, dan pihak BBC menyaksikan perkelahian pecah di antara beberapa kelompok massa tersebut.