NADIKABAR.COM — Seorang wanita di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Amanda Andini menceritakan kejadian yang tak mengenakan saat acara Maulid Nabi. Pasalnya, acara tersebut diisi dengan penyalaan petasan hingga dini hari.
Amanda mengatakan acara tersebut digelar pada hari Sabtu (3/9) pagi hingga tengah malam. Keturunan salah satu keluarga di sana menggelar acara untuk reuni.
"Mereka bikin acara kombo itu ya untuk reuni akbar keluarga besar dihadiri oleh semua kerabat juga keturunan mereka, dari pagi sampai tengah malam itu," kata Amanda dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).
Amanda menilai tindakan yang dilakukan keluarga tersebut arogan. Sebab, dia menilai mereka masih merasa memiliki tanah yang menjadi lokasi acara.
Menurutnya, bukan hanya dirinya yang merasa terganggu dengan acara tersebut. Ia menyebut ada dua warga lain yang tinggal tak jauh dari lokasi dan merasa terganggu dengan suara petasan tersebut.
"Waktu pulang ke rumah jam 22.00 WIB sampai nggak bisa masuk rumah, pas minta tolong malah diintimidasi parah waktu minta akses masuk," ucapnya.
Salah satu warga yang terganggu menurutnya sempat dibentak karena mendatangi lokasi acara dan melayangkan protes. Dia mengatakan beberapa kali mediasi sempat diupayakan oleh pihak-pihak yang terlibat.
"Kemarin ada akhirnya dua kali mediasi, pertama siang yang diprakarsai Pak RW tapi pihak penyelenggara dan yang punya acara nggak hadir sama sekali, hanya perwakilan," sebutnya.
"Lalu malam jam 20.00 WIB di kelurahan diprakarsai oleh Bu Lurah-yang juga udah aku DM dan terangkan panjang lebar-dihadiri juga oleh pihak penyelenggara bersama yang bikin acara," tambahnya.
Dalam rekaman video, Amanda yang memakai daster polkadot terlihat memprotes acara tersebut karena petasan yang dinyalakan tengah malam. Ia menyebutkan anaknya yang berkebutuhan khusus sampai terbangun dan tremor saking kerasnya suara petasan.
Di tengah protes yang ia layangkan, seorang pria datang terkesan menantangnya. Dalam video tersebut Amanda juga menyebut dirinya hendak ditampar oleh salah satu peserta acara.
Sebelumnya, Kelurahan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel), melakukan mediasi terkait warga yang mengeluhkan petasan hingga dini hari saat haul keluarga dan Maulid Nabi. Pihak kelurahan menyampaikan bahwa panitia acara haul dan Maulid Nabi tidak mengantongi izin.
"Kita melakukan mediasi lagi pada Minggu malam pukul 20.00 WIB di aula kantor kelurahan. Kami hadir bersama Polsek Kebayoran Lama, Koramil Kebayoran Lama, satpol PP, dan juga para tokoh masyarakat," kata Lurah Pondok Pinang Dina Roslina,
Dina mengatakan, berdasarkan informasi dari penyelenggara, mereka telah berkoordinasi dengan RT/RW serta babinsa setempat. Namun kegiatan pada pada Sabtu (3/10) malam tersebut belum dilengkapi surat izin resmi dari kepolisian.
Peristiwa tersebut kemudian memicu keberatan dari sejumlah warga.Kelurahan menerima informasi adanya tiga warga yang merasa dirugikan dan mengalami tindakan yang dinilai kurang berkenan setelah menyampaikan protes kepada panitia.
Kelurahan kemudian melakukan mediasi dengan menghadirkan pihak penyelenggara dan warga yang merasa dirugikan. Dalam pertemuan tersebut, Dina mengatakan pihak panitia mengakui kegiatan mereka belum mengantongi izin dari kepolisian dan menyampaikan penyesalan atas kejadian yang terjadi.
"Panitia menyadari dan mengakui bahwa kegiatan mereka ini tidak memiliki izin. Kemudian mereka menyesali perbuatan mereka yang mungkin terbawa emosi sehingga ada tindakan indikasi kekerasan yang dirasakan oleh para korban," kata Dina.