"Keputusan yang sangat penting, saya merantau ke Jakarta. Saya nggak pernah tahu Jakarta, nggak pernah ke Jakarta. Tidak ada kenalan di Jakarta, tapi ibu saya mendukung. Ibu saya mendukung. Ibu saya kasih saya kalung, kasih saya cincin. Dia punya cincin bukan berlian, dulu intan namanya. Terus saya dikasih gelang. Modal itulah merantau ke Jakarta," ucapnya.
Singkat cerita setelah lulus SMA, Zulhas sempat mencoba daftar kuliah di fakultas kedokteran, meski sayang ia tidak diterima. Setelahnya ia kemudian menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian yang saat itu masih tergabung dengan sektor kelautan dan kehutanan.
Namun ia merasa hidup sebagai pegawai negeri hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. Alhasil ia memilih untuk mengundurkan diri dan mulai berusaha sendiri.
"Saya suka ke pasar, saya lihat. Dulu saya tinggal di Jakarta Timur, namanya ada Pasar Mester di sana. Saya lihat, ini orang Tiongkok kaya-kaya. Kok saya nggak punya uang, kok miskin? Kita pelajari. Kenapa dia bisa sukses," katanya.
"Singkat cerita, saya punya gambaran. Habis itu saya mulai baca buku. Bagaimana jadi orang punya, bagaimana jadi orang punya uang, bagaimana jadi orang kaya. Baca. Kemudian saya ikut beberapa kursus. Yang saya pilih akhirnya marketing," papar Zulhas lagi.