Xi menyerukan kedua negara agar "memperpanjang daftar kerja sama dan memperpendek daftar persoalan". Agenda tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari perdagangan dan investasi hingga kecerdasan buatan (AI), pemberantasan narkotika, penegakan hukum, dan penerbangan langsung.
Menurut Sun Taiyi, Associate Professor di Christopher Newport University, kerja sama bilateral dapat mengurangi ketidakpastian pasar, mengelola risiko teknologi, dan memperbaiki komunikasi dalam menghadapi krisis. "Bahkan, kerja sama yang cakupannya terbatas dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas global," ujarnya.
Tata kelola AI juga menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian global. Xi mengatakan bahwa "Tiongkok dan AS merupakan dua negara terdepan dalam AI" dan memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan AI tetap "berada di bawah kendali manusia dan melayani kesejahteraan manusia".
Wang Honggang, Direktur Institute of Peaceful Development, Chinese Academy of Social Sciences, menilai bahwa tata kelola AI yang bersifat kolektif merupakan salah satu contoh utama kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi dunia.
Survei CGTN di 39 negara menunjukkan bahwa 75% responden menilai stabilitas hubungan Tiongkok-AS berperan penting bagi masyarakat internasional. Angka tersebut mencapai 78,3% di negara-negara berkembang.
Tahun ini, Tiongkok menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC, sementara AS menjadi tuan rumah KTT G20. Perhatian dunia pun tertuju pada bagaimana para pemimpin kedua negara berinteraksi, mempertahankan komunikasi, dan memperluas kerja sama.
Dalam pidatonya di Gedung Putih, Xi mengatakan, "Tiongkok dan AS sebagai dua negara besar mengemban tanggung jawab historis untuk mendorong pembangunan dan kemajuan umat manusia."
https://news.cgtn.com/news/2026-09-25/Why-the-world-is-watching-the-Xi-Trump-meeting-1QIgAZq6BMY/p.html