Sandy menjelaskan pengguna yang masuk dalam pengalaman ChatGPT untuk anak akan mendapatkan perlindungan tambahan. Artinya, respons yang diberikan AI dapat disusun secara berbeda dibandingkan pengalaman untuk pengguna dewasa.
Perlindungan tersebut terutama diterapkan ketika ChatGPT berhadapan dengan topik-topik yang dinilai sensitif atau berbahaya bagi anak."Perlindungan tambahan di konteks tersebut berarti kami akan memberlakukan 'penjagaan' khusus ketika berhubungan dengan topik-topik yang berkaitan dengan kekerasan, kekejaman, penampilan diri, dan hal-hal yang dianggap tidak pantas diakses anak-anak," jelas Sandy.
Dengan mekanisme tersebut, OpenAI tidak hanya mengandalkan aturan umum mengenai penggunaan AI. Sistem juga mempertimbangkan usia pengguna ketika menentukan pengalaman yang diberikan. Hal ini membuat ChatGPT untuk Remaja tidak sepenuhnya sama dengan pengalaman ChatGPT bagi orang dewasa.
Sandy mengatakan pendekatan OpenAI bukan semata-mata membuat anak tidak bisa mengakses teknologi AI. Menurutnya, anak tetap perlu mendapatkan manfaat dari teknologi, tetapi dalam lingkungan yang sesuai dengan usia mereka.
"Karena kami pikir ada sejumlah tujuan untuk semua orang, tapi kami juga berpikir bahwa karena anak-anak, mereka perlu diberikan ruang tempat mereka dapat mengambil manfaat darinya, tapi mereka juga perlu memiliki pengalaman yang sesuai," tutur Sandy.