Tindakan Filipina pada akhir pekan itu, ungkap Guo Jiakun, merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan yurisdiksi China, serta upaya sengaja untuk merusak perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.
"Langkah militer dan penjaga pantai China untuk merespons dengan tindakan yang sesuai hukum adalah hal yang sepenuhnya sah dan dapat dibenarkan. Kami dengan tegas menentang segala tindakan Filipina yang merusak kedaulatan serta hak dan kepentingan China dan akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk secara tegas menjaga kedaulatan wilayah serta hak dan kepentingan maritim kami di Laut China Selatan," jelas Guo Jiakun.
Ia pun meminta agar Filipina segera menghentikan pelanggaran dan provokasi tersebut.
Selain konfrontasi pada Sabtu, terjadi juga insiden pada Minggu (4/10) di Kepulauan Spratly, yang terletak lebih jauh ke selatan di Laut China Selatan.
Penjaga pantai Filipina menyatakan pihaknya mengerahkan perahu-perahu kecil untuk mendekati sebuah kapal penangkap ikan yang dituduh menggunakan dinamit untuk menangkap ikan di antara Pulau Thitu yang diduduki Filipina dan Terumbu Subi yang dikuasai China.
Dua kapal Penjaga Pantai China tiba bersama sebuah helikopter angkatan laut China yang "berputar-putar" di atas tim Filipina sebanyak empat kali. Salah satu kapal China bahkan disebut "membayangi dan menghalangi perahu-perahu Filipina", dan pada satu momen sempat mendekat hingga jarak sekitar sembilan meter dari salah satu perahu tersebut, ungkap pihak penjaga pantai Filipina.
Namun, penjaga pantai Filipina menghentikan pengejaran "demi alasan keselamatan" dan kembali ke Thitu.
Sebelumnya, Juru Bicara Komando Teater Selatan militer China Zhai Shichen dmenyatakan bahwa pesawat Filipina tersebut telah "menyusup secara ilegal ke wilayah udara di atas Huangyan Dao milik China".