NADIKABAR.COM — Para peneliti yang dipimpin oleh tim dari Beijing Visual Science and Translational Eye Research Institute (BERI) di China membiarkan AI menjalankan klinik mata. Meski tetap di bawah pengawasan, klinik yang diberi nama AI-TEC (AI-Agent Augmented Tsinghua Eye Clinic) ini langsung menarik perhatian.
Melansir ScienceAlert, Kamis (24/9/2026), dokter manusia tetap terlibat. Klinik ini dirancang sejak awal untuk memaksimalkan penggunaan AI, alih-alih sekadar menambahkan alat-alat tersebut pada sistem dan praktik yang sudah ada. Itu berarti, AI digunakan dalam segala aspek, mulai tahap pra-konsultasi hingga tindak lanjut pasien. Bahkan termasuk proses pemindaian mata itu sendiri yang sangat krusial.
"Kami menyajikan pelajaran dari penerapan awal ini mengenai upaya membawa AI melampaui sekadar kinerja algoritma menuju transformasi alur kerja klinis dan integrasi tingkat sistem, yang merupakan titik terciptanya nilai klinis sesungguhnya," tulis para peneliti dalam makalah mereka. Laporan dan studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine.
Uji coba AI-TEC menghasilkan beberapa temuan menarik. Awalnya, AI memiliki tingkat keberhasilan yang relatif rendah dalam mengidentifikasi penyakit melalui pemindaian mata seperti glaukoma dan degenerasi makula terkait usia. Namun, tingkat akurasi meningkat secara signifikan ketika dokter spesialis mata memberikan 1.426 citra pemindaian mata berkualitas tinggi kepada AI, yang telah diberi label kondisi medis yang relevan secara akurat.
Data baru ini memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan data pelatihan awal yang mencakup hampir 27.000 citra tetapi memiliki kualitas lebih rendah dan pelabelan yang kurang komprehensif.
Dengan menggunakan metrik diagnostik standar yang disebut AUROC, AI mampu mencapai tingkat akurasi di atas 0,93 menggunakan data pelatihan yang telah diperbarui. Angka ini dikira-kira setara dengan sistem pemindaian canggih lainnya.