"Kami menekankan perlunya keterlibatan dan kolaborasi erat di lokasi antara klinisi dan peneliti AI," ujar para pakar.

Konsep klinik yang mengutamakan AI (AI-first) ini masih berada pada tahap awal. Akan tetapi, hasil uji coba berskala kecil ini menunjukkan bahwa klinik sejenis bisa sukses jika berbagai faktor pendukung yang tepat dipadukan.

Kendati demikian, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk menyelaraskan perbedaan fokus antara AI yang mengutamakan hasil akhir (apakah pasien A menderita penyakit mata atau tidak) dengan dokter yang lebih mengutamakan gejala (pasien A melaporkan penglihatan kabur).

Dengan kata lain, memiliki AI yang akurat dalam menganalisis citra hasil pemindaian tidak serta-merta berarti sistem tersebut akan meningkatkan kualitas perawatan pasien. Studi ini bahkan menyarankan agar pengujian di masa mendatang tidak hanya berfokus pada skor kinerja teknis semata.

"Keberhasilan sistem layanan kesehatan yang berbasis AI pada akhirnya harus diukur dari transformasi alur kerja klinis dan peningkatan hasil kesehatan yang dicapai berkat AI, bukan sekadar dari kemampuan AI dalam mencatatkan kinerja unggul berdasarkan tolok ukur tertentu," tegas peneliti.