NADIKABAR.COM — China memperingatkan warganya yang bepergian ke Prancis untuk mewaspadai berbagai risiko usai aksi protes biaya hidup berujung rusuh yang melanda negara tersebut. China mewanti-wanti warganya untuk mengambil langkah-langkah pencegahan demi keselamatan.

Dilansir AFP, Senin (19/10/2026), lebih dari 2.500 orang ditangkap setelah sekitar setengah juta orang turun ke jalan di seluruh Prancis pada Sabtu (17/10), untuk memprotes tingginya biaya hidup.

Sejumlah balai kota dan toko dijarah serta dibakar dalam peristiwa yang menjadi salah satu aksi kekerasan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut lembaga penyiaran negara China CCTV, Kementerian Luar Negeri China beserta kedutaan besarnya di Prancis telah memberikan peringatan mengenai insiden kekerasan dan bentrokan antara polisi dan warga sipil.

Pihak China juga mengimbau warganya untuk"meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko, memantau situasi setempat dengan saksama, memperkuat langkah-langkah pengamanan, serta menghindari area tempat berlangsungnya demonstrasi.

Perdana Menteri (PM) Prancis, Sebastien Lecornu, menyatakan bahwa ia telah meminta otoritas daerah untuk memberlakukan jam malam bersifat lokal. Lecornu mengadakan rapat darurat dengan para menteri setelah menteri dalam negeri menyatakan bahwa polisi telah kehilangan kendali selama kerusuhan akhir pekan tersebut.

Menyusul seruan dari gerakan Rompi Kuning atau Yellow Vests, kelompok yang mengorganisasi aksi akhir pekan lalu, untuk kembali menggelar unjuk rasa pada Sabtu (24/10), Lecornu meminta otoritas daerah untuk menerapkan jam malam yang bersifat parsial dan terlokalisasi.

Langkah ini bertujuan melindungi sektor usaha setelah ratusan toko mengalami kerusakan dan penjarahan.

"Saya bertekad penuh untuk memulihkan ketertiban umum," tegasnya, seraya menambahkan bahwa pemerintah siap memberlakukan status darurat jika diperlukan.