Dukungan armada juga datang dari berbagai instansi seperti PDAM, BBWS, PMI, Samsat, hingga organisasi relawan seperti MDMC dan 234 SC. "Alhamdulillah banyak yang ikut membantu. Ada dari PDAM, BBWS, PMI, Samsat, kemudian dari Jogja Ciamis juga ikut membantu. Ada MDMC, 234 SC, dan banyak relawan," ucap Ani.
Di sisi lain, BPBD Ciamis menyoroti kerusakan lingkungan sebagai pemicu krisis air yang kian parah. Ani mengingatkan warga untuk menghentikan aktivitas yang merusak hutan dan sumber air. Hasil pantauan menunjukkan adanya lahan gundul akibat penebangan liar, bahkan ditemukan pembukaan lahan pada kemiringan ekstrem 45 derajat.
"Untuk warga, tolong jagalah alam kita. Jangan sampai dirusak," kata Ani.
"Karena ada beberapa titik yang mengalami gundul, mungkin karena ditebang oleh oknum warga atau siapa pun. Ada juga pembukaan lahan di kemiringan 45 derajat dan itu sudah ditutup," ujarnya.
Ani memperingatkan bahwa kerusakan alam di hulu tidak hanya memicu kekeringan, tetapi juga mengancam keselamatan warga saat musim hujan tiba.
"Kalau alamnya rusak, nanti ketika musim hujan dikhawatirkan terjadi banjir dan longsor," katanya.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola lahan. "Kalau bisa jangan main tebang sembarangan. Kasihan alamnya. Nanti kalau musim hujan bisa berisiko banjir dan longsor," pungkas Ani.