NADIKABAR.COM — Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai peningkatan produksi dan cadangan beras menjadi capaian penting dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, meski keterjangkauan harga pangan dan kesejahteraan petani masih perlu diperkuat.

"Positifnya capaian paling nyata adalah produksi beras 2025 yang naik 13,29 persen dan CBP yang naik tajam menjadi 4,5 juta ton," kata Eliza kepada NadiKabar di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 30,62 juta ton pada 2024.

Sementara itu, berdasarkan dokumen evaluasi pemerintah, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog meningkat dari sekitar dua juta ton menjadi lima juta ton pada April 2026, sebelum berada pada posisi 4,5 juta ton per 18 Oktober 2026.

Pengadaan gabah dan beras dalam negeri oleh Bulog juga mencapai sekitar 4,11 juta ton setara beras hingga 8 Oktober 2026, melampaui target empat juta ton.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pengadaan sepanjang 2025 sebesar 3,19 juta ton setara beras.

Eliza menilai peningkatan pengadaan tersebut tidak terlepas dari penyerapan aktif Bulog yang dipadukan dengan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram.

"Mekanisme ini memberi kepastian pasar bagi petani, menahan harga jatuh saat panen, dan mengisi cadangan dari produksi dalam negeri," ujar dia.

Menurut dia, kebijakan tersebut turut memberi ruang bagi penggilingan kecil untuk kembali beraktivitas sebagai mitra pengolahan gabah bagi Bulog.

Selain itu, penurunan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025 dinilai membantu mengurangi beban biaya produksi petani.