Namun, kondisi setiap subsektor tidak selalu sama, sebagaimana terlihat dari penurunan NTP hortikultura secara bulanan pada Agustus 2026.
"NTP itu mengukur daya tukar harga, bukan pendapatan, laba usaha petani," ujarnya.
Eliza menjelaskan kenaikan harga komoditas belum tentu meningkatkan keuntungan petani apabila volume panen menurun atau biaya produksi tetap tinggi.
Menurut dia, keterbatasan luas lahan juga menyulitkan petani mencapai skala usaha yang memadai untuk membiayai irigasi, mekanisasi, dan penggunaan teknologi pertanian.
"Kalau ingin NTP naik dan petani betul sejahtera, adalah dengan menurunkan biaya produksi dan produktivitas ditingkatkan," tuturnya.
Karena itu, ia menyarankan perbaikan irigasi, penyediaan pupuk dan benih tepat waktu, serta pemanfaatan alat mesin pertanian secara bersama agar biaya produksi dapat ditekan.
Eliza juga mengingatkan ancaman El Nino yang berpotensi menggeser musim tanam dan mengurangi hasil panen. Dalam kondisi tersebut, kenaikan harga pangan dapat meningkatkan NTP, tetapi belum tentu memperbaiki pendapatan petani apabila produksi merosot.
Memasuki tahun ketiga pemerintahan, ia menilai prioritas kebijakan perlu diarahkan pada peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim, produktivitas pertanian, efisiensi rantai pasok, serta pengelolaan cadangan pangan sesuai kebutuhan daerah.
"Saatnya kebijakan pangannya ke arah sustainability, equality dan resiliensi. Prioritas tahun ketiga nanti sebaiknya diarahkan ke program untuk membangun resiliensi," ucap Eliza.