NADIKABAR.COM — Bursa saham Indonesia kembali berakhir di zona merah. IHSG pada perdagangan Senin (19/10) ditutup turun 3,64% ke level 4.996,61. Sejumlah saham masih bergerak menguat di tengah tekanan pasar. BSIM menjadi saham dengan kenaikan terbesar, yakni 24,83%, kemudian AADI naik 2,78% dan DSSA menguat 2,10%. Di sisi lain, BBCA terkoreksi 6,86%, BYAN turun 6,95%, sementara BBRI melemah 3,79%.

Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Di pasar reguler, investor asing mencatatkan net sell Rp2,28 triliun. Jika dihitung di seluruh pasar, net sell asing tercatat Rp1,72 triliun.

Tak ada satu pun sektor yang berhasil menguat. Sebanyak 11 sektor berakhir melemah, dengan sektor Basic Industry menjadi yang paling tertekan setelah turun 4,57%.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak beragam. Dow Jones turun tipis 0,07% ke 51.966, sedangkan S&P 500 naik 0,41% ke 7.690 dan Nasdaq menguat 1,11% ke 26.430.

BEI akan mengeluarkan seluruh saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Keputusan ini diambil setelah BEI melakukan pertemuan dengan MSCI.

Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kredibilitas indeks serta memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih sesuai dengan kondisi pasar, di tengah perhatian terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Namun, kebijakan ini bukan berarti saham HSC akan dihapus dari perdagangan.

Saham-saham tersebut tetap dapat diperjualbelikan di BEI, hanya saja perubahan harganya tidak lagi berdampak pada perhitungan IHSG. Saat ini, saham dalam daftar HSC memiliki bobot sekitar 18% terhadap IHSG.

Berdasarkan materi OJK, total kapitalisasi pasar saham HSC mencapai Rp3.076,5 triliun atau 28,8% dari total kapitalisasi pasar BEI per September 2026. Daftar HSC kini mencakup 83 saham. Jumlah tersebut bertambah setelah BEI memasukkan 19 saham baru pada 12-13 Oktober 2026.

Selain mengubah komponen perhitungan IHSG, BEI juga akan mencantumkan informasi status afiliasi dalam publikasi pemegang saham yang memiliki kepemilikan 1% atau lebih.

Tanggal mulai berlakunya kedua kebijakan tersebut akan disampaikan BEI kemudian. Sementara itu, perkembangan terkait sanksi terhadap saham HSC akan diperbarui oleh OJK.

DMAS menaikkan target marketing sales 2026 menjadi Rp2,95 triliun. Target tersebut naik 41,83% dibandingkan target sebelumnya sebesar Rp2,08 triliun.

Kenaikan target terjadi seiring meningkatnya permintaan lahan industri, terutama dari sektor data center. Sampai September 2026, DMAS telah mengantongi marketing sales Rp2,61 triliun.