Selain fisik yang terkuras, Fian kerap menyebut banyak perilaku untuk penumpang di dalam gerbong. Salah satunya penumpang tak tidak masuk kategori prioritas, namun sengaja duduk di kursi prioritas.
"Yang paling sering dijumpai seperti banyak anak muda atau pekerja duduk dan tidur di kursi prioritas. Lansia atau ibu hamil kadang harus bangunin untuk meminta kursi," tuturnya.
Tak hanya itu, kebisingan dan gesekan fisik juga sering memicu cekcok antarsesama pengguna kereta. Khususnya saat momen keluar masuk penumpang saat gerbong dalam keadaan penuh.
"Cek-cok antar penumpang karena terdorong atau berdesakan hampir sering terjadi saat jam sibuk. Biasanya kalau ada yang maksa masuk KRL padahal gerbong sudah penuh," lanjut Fian.
Gesekan antar penumpang juga diceritakan Janti (27), yang menaiki KRL rute Stasiun Kranji menuju Tanah Abang di lintasan Blue Line. Sebagai anker sejak masa kuliah, dia mengaku kerap mendapati pertengkaran akibat berdesakan di jam sibuk.
Janti menyebut bahkan pernah menegur langsung seorang penumpang di gerbong khusus wanita yang enggan tersenggol.
"Aku pernah tegur mbak mbak, posisi aku lagi di gerbong khusus wanita, jadi mbak itu ngedumel karena nggak mau kesentuh orang di sekeliling, spontan lah aku tegur 'mbak, kalau nggak mau kesentuh naik mobil pribadi aja saja, nggak usah naik KRL'. Ini terjadi waktu rush hour, sekitar jam 7-8 lah seingetku," ungkap Janti.
Menurutnya toleransi antar pengguna harus selalu dijaga di transportasi publik seperti KRL. "Aku spontan aja, soalnya menurutku ya KRL itu transport bersama, harus saling mengerti, saling jaga," imbuh Janti.