"Selain itu juga pernah liat orang berantem di dalem gerbong KRL, mostly ya karena terlalu berdesakan ya, main dorong-dorongan, sikut-sikutan, bahkan ada yang sengaja nginjek kaki," sambung dia.

Tak jauh berbeda, Ira (26), pengguna rute Rawa Buntu-Tanah Abang. Dia mengaku sempat 'kena mental' saat menggunakan KRL saat rush our.

"Jadi saat itu aku lagi naik KRL dari Stasiun Rawa Buntu ke Tanah Abang dan itu di jam berangkat kerja. Kereta udah padat banget, dan orang juga udah berdesak-desakan. Tiba-tiba seorang perempuan di sebelahku marah-marah dan dan bilang ke aku "dasar amatir, baru pertama kali naik kereta ya"," cerita Ira.

Ira mengaku kaget mendengar perkataan itu, sebab dia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Namun, akhirnya Ira sadar sempat tak sengaja menyikut orang di sebelahnya saat kereta baru berjalan.

"Jujur awalnya aku terkejut kenapa dia marah karena aku tidak merasa melakukan sesuatu yang salah. Ternyata saat KRL nya mulai berjalan, aku tidak sengaja menyikut dia karena oleng saat belum dapat pegang di dalam kereta. Dan ya, itu memang pengalaman pertamaku naik KRL saat jam sibuk," tutur Ira.

"Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak menggunakan KRL di jam sibuk, kecuali memang sudah tidak ada pilihan lain lagi," lanjut dia.

Keadaan di dalam KRL saat jam sibuk kerap membuat Ira sedih. Tetapi dia juga bersyukur masih ada fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk mobilitas sehari-hari.

"Sebenernya dengan adanya pilihan transportasi KRL ini sangat membantu kehidupan sebagai perantau di Jakarta. Tetapi memang masih banyak yang perlu diperhatikan," pungkasnya.