NADIKABAR.COM — Serangan hama tikus di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora semakin mengkhawatirkan. Hama tikus tidak hanya menyerang tanaman padi, tetapi juga jagung, tebu, timun, tomat hingga cabai.

Akibat serangan tersebut, sejumlah petani memilih membiarkan sawahnya tidak ditanami atau bero. Sebagian lainnya nekat menanam dengan risiko tanaman kembali dimakan tikus.

Petani Desa Karanganyar, Kecamatan Todanan, Arif Saifuddin, mengatakan serangan tikus sudah dirasakan sejak akhir 2024. Namun, serangan semakin parah hingga membuat petani mengalami gagal panen.

"Serangan hama tikus itu tahun 2024 akhir. Habis bersih itu 2025 kemarin. Sekarang tidak ada tanaman," kata Arif saat ditemui di Todanan, (22/8/2026).

Menurutnya, hampir seluruh tanaman yang ditanam petani menjadi sasaran tikus. Bahkan, dirinya pernah menanam tebu dan padi, namun tidak bisa memanen karena tanaman habis dimakan tikus.

"Saya ada tanaman tebu dan padi. Sekarang lahan enggak ada tanamannya. Tebu enggak bisa panen, habis tak tersisa," ujarnya.

Arif menyebut sejumlah petani sudah mencoba berbagai cara untuk mengendalikan hama tersebut. Mulai dari menggunakan racun tikus, menjaga sawah pada malam hari menggunakan petasan berbahan spiritus, membuat pagar dari plastik fiber, hingga berburu tikus.

Ada pula petani yang membuat rumah burung hantu. Bahkan, sebagian warga mencoba cara tradisional dan spiritual seperti membaca doa, menggunakan rajah hingga menaburkan garam. Namun berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil yang signifikan.

"Semua cara sudah dilakukan petani, tapi tidak ada hasil," ungkapnya.

Arif mengatakan serangan tikus terjadi secara masif. Tikus menyerang tanaman sejak masih berupa benih atau wineh. Tanaman yang berhasil tumbuh pun kembali diserang hingga gagal panen.

"Padi, diserang dari batangnya kemudian setelah roboh dibiarkan rusak. Tahun lalu diserang sejak wineh atau benih, benih itu diserang. Nah Sisa dari tikus itu ditanam. Wineh diserang tikus, sisanya ditanam, ketika ditanam itu juga diserang tikus," jelasnya.

Pada tanaman padi, tikus menyerang bagian batang hingga tanaman roboh dan akhirnya rusak. Pada jagung, tikus memakan tanaman sejak masih kecil hingga ketika sudah berbuah.

"Jagung ada yang baru kecil langsung dimakan. Ada yang sudah berbuah, jagung dimakan, hanya tersisa janggel atau bonggolnya," jelasnya.

Sementara tanaman tebu digerogoti dari bagian bawah hingga roboh. Setelah roboh, tanaman kemudian dicacah dan dimakan tikus.

"Timun, tomat rusak semua," imbuhnya.

Tanaman yang dinilai relatif aman dari serangan tikus yakni tembakau dan brambang atau bawang merah.

"Tanamam yang cenderung aman itu tembakau dan bawang merah," ucap Arif.

Menurut Arif, sedikitnya 22 desa dari 25 desa di Kecamatan Todanan terdampak serangan hama tikus. Di antaranya Karanganyar, Sendang, Wukirsari, Kedungwungu, Todanan, Kembang, Dalangan, Ketileng, Bedingin, Ledok, Sonokulon, Sambeng, Tinapan, Cokrowati, Pelemsengir, Prigi, Kedungbacin, Ngumbul, Bicak, Candi, Gondoriyo dan Kacangan.

"Yang aman itu Desa Dringo, Gunungan, Kajengan. Tapi ternyata Dringo, Kajengan dan Gunungan juga sebagian sudah diserang mulai April 2026," katanya.

Desa Karanganyar dan Sendang disebut menjadi wilayah yang pertama kali mengalami serangan tikus. Kini serangan tersebut telah meluas ke sejumlah wilayah lain.

Akibat sawah tidak bisa ditanami, sebagian warga terpaksa mencari pekerjaan lain. Ada yang menjadi buruh kasar, kuli pasir hingga merantau ke luar pulau untuk bekerja di sektor pertambangan.

"Sejak kecil sampai sekarang baru tahu warga petani beli beras. Biasanya tidak pernah membeli beras," tutur Arif.

Dia mengatakan warga Desa Karanganyar, Sendang dan Wukirsari banyak yang merantau, termasuk anak muda lulusan SMK. Sebagian bekerja di sektor tambang emas di Sumatera dan Kalimantan.