"Istilahnya itu mocok. Kuli pasir, kuli kasar lah intinya. Yang banyak pada merantau di tambang. Sumatera, Kalimantan. Bekerja di sektor tambang emas," papar dia.
Di sisi lain, pembangunan Bendungan Cabean juga membuka pekerjaan sementara bagi warga terdampak. Sejumlah warga kini bekerja sebagai tukang atau kuli batu karena banyak warga yang mendapatkan ganti untung dan kemudian membangun rumah.
"Akhir akhir ini ada yang menjadi tukang kuli batu, dari yang dapat ganti untung karena terdampak Bendungan Cabean Todanan kan pada membangun rumah, jadi banyak pekerjaan," jelasnya.
Arif menyebut kondisi tersebut menjadi pukulan berat bagi petani. Dalam dua tahun terakhir, ada tanaman yang sempat ditanam tetapi tidak menghasilkan panen.
"Sudah dua tahun ada tanduran tapi tidak panen. Tidak menutup modal awal, diganggu tikus, belum lagi modal pupuk," ujarnya.
Petani lain, dari Dukuh Gayam, Desa Kedungwungu, Todanan, Diah Sri Suyati mencegah serangan tikus dengan metode yang cukup unik. Yaitu buah jagung dibungkus dengan menggunakan plastik.
"Saya mencoba dengan metode dibungkus plastik. Itu yang dibungkus plastik itu kiranya ada yang sudah aman," jelasnya saat ditemui di lahannya.
Cara ini tergolong cukup ampuh dari serangan tikus. Mayoritas jagung yang sudah dibungkus menggunakan plastik tidak diserang tikus.
"Tapi kemarin belum selesai dipasang plastik itu malamnya sudah diserang. Ini dibungkus semua pakai plastik," jelasnya.
Menurutnya tanaman jagung berusia muda sudah diteror oleh tikus, ada juga jagung yang diserang sudah berbuah. Metode bungkus plastik meski ampuh, Diah tetap waspada. Jarak tanam yang mulanya rapat, kini harus sedikit lebar dari biasanya.
"Kalau di sawah aku, jagung mulai diserang usia 2 bulan. HMa tikus kan beda beda, ada yang sejak dini sudah diserang, jadi ada yang enggak panen. Kalau di sini nyerangnya sudah berbunga atau klobot," ucap Diah.
Dia menyebut ada petani lain yang jagungnya tidak dibungkus plastik, tetapi diberi plastik hitam putih yang dipotong memanjang sehingga menyerupai ular. Ada yang diberi barikade line. Selain itu ada juga yang dijaga saat malam hari, diusir menggunakan petasan.
"Harapan pemerintah kayaknya enggak ada harapan. Ya kita sendiri yang berusaha. Ya kalau ada bantuan obat tikus ya tidak apa apa," ucapnya.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Ngaliman, membenarkan adanya serangan hama tikus di Kecamatan Todanan.
"Kita sudah mengadakan gerakan terus. Sudah tiga bulan lalu bersama kelompok-kelompok tani," kata Ngaliman.
Menurutnya, DP4 telah menyiapkan pestisida untuk pengendalian tikus. Gerakan pengendalian dilakukan bersama kelompok tani, meski belum seluruh kelompok mengikuti kegiatan tersebut.
"Kalau yang melakukan gerakan sudah menurun. Tidak semua kelompok mau," ujarnya.
Ngaliman mengatakan hama tikus sebenarnya sudah lama ditemukan di Todanan. Namun tahun ini populasinya meningkat.
"Kalau tikus sudah lama. Apalagi yang tanamannya tidak pernah berhenti. Bertahun-tahun sudah ada hama tikus. Memang sekarang banyak, tahun ini lebih banyak," jelasnya.
Salah satu faktor yang diduga menyebabkan populasi tikus meningkat adalah ketersediaan makanan sepanjang tahun. Musim hujan yang mendukung aktivitas tanam membuat sumber makanan tikus tersedia sehingga perkembangbiakannya meningkat.
"Kemarin musim hujannya kan bagus untuk menanam. Sehingga tikus beranak terus, karena tersedia pangan," katanya.
Selain pengendalian menggunakan pestisida untuk jangka pendek, DP4 juga mendorong penggunaan predator alami seperti burung hantu untuk jangka panjang.