"Kita mengembangkan rumah burung hantu. Tapi karena saking banyaknya desa itu terbatas. Petani kan enggak percaya dengan burung hantu, makanya kita kasih contoh," ungkapnya.

Ngaliman mengatakan rumah burung hantu juga diarahkan melalui dukungan CSR. Menurutnya, ketika rumah burung hantu sudah tersedia, burung tersebut dapat datang dan menempatinya.

Selain itu, DP4 juga mengenalkan ramuan bioyoso sebagai umpan pengendali tikus. Cara tersebut telah dipraktikkan di Kecamatan Kedungtuban dan Cepu.

"Ramuan itu sebagai umpan agar dimakan tikus. Tikus memakan ramuan itu, tikusnya bisa ompong," katanya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Todanan, Heri, mengatakan serangan awal terdeteksi di wilayah utara, terutama Desa Karanganyar, Bicak dan Sendang yang berbatasan dengan Kabupaten Pati.

"Serangan pertama di daerah utara di Desa Karanganyar, terus Desa Bicak, di Desa Sendang yang berbatasan dengan Kabupaten Pati. Tapi dulu belum separah ini. Hama tikus itu awalnya di hutan," jelasnya.

Menurutnya, serangan mulai terlihat sejak akhir 2024. Namun saat itu belum separah sekarang.

"Tapi kok tiba-tiba seperti wabah. Musim tanam padi pertama sudah bagus, musim tanam kedua padi bunting, tikusnya seperti migrasi, gabungan mungkin dari hutan," kata Heri.

Ia menduga tikus bermigrasi dari kawasan hutan menuju areal persawahan ketika sumber makanan di hutan berkurang.

"Jagung habis dari hutan kelihatannya migrasi ke sawah, yang membuat serangannya masif. Sekarang semakin ke timur. Hampir merata, tapi masih spot-spot," jelasnya.

Saat kemarau seperti sekarang, tikus disebut cenderung berkumpul di wilayah yang masih memiliki sumber air, terutama di sekitar sungai.

"Posisi saat ini karena kemarau kelihatannya di pinggir sungai yang ada airnya ngumpul di situ," ujarnya.

Heri mengatakan gerakan pengendalian bersama petani terus dilakukan. Salah satunya gropyokan tikus seperti yang dilakukan di Desa Sonokulon pada akhir Juli.

Selain itu, penyuluh juga memberikan bantuan racun serta mendorong penggunaan belerang dan kompor gas untuk membasmi tikus dari lubangnya. Namun pelaksanaannya masih terbatas karena anggaran.

Untuk rumah burung hantu, tercatat sudah ada di Desa Pelemsengir dan Bicak. Di Pelemsengir terdapat sekitar 12 rumah burung hantu, sedangkan di Bicak sekitar tiga.

"Rubuha di Desa Bicak sudah dan Pelemsengir," kata Heri.

Ia menambahkan, saat ini sebagian petani mulai mencoba tanaman alternatif yang relatif lebih aman dari serangan tikus, seperti tembakau dan bawang merah.

"Kalau tani yang mau kemitraan dengan menanam tembakau aman, bawang merah, cabai rawit agak aman lah. Itu alternatif," ujarnya.

Namun bagi petani yang tetap mencoba menanam jagung, risiko serangan masih tinggi. Bahkan tanaman jagung yang baru tumbuh bisa langsung dimakan tikus.

"Sedikit yang ditanami jagung, baru tumbuh sudah dimakan tikus," katanya.

Heri mengatakan kondisi serangan saat ini memang mulai berkurang karena kemarau membuat sebagian besar sawah dalam kondisi bero. Namun sejumlah petani yang nekat menanam masih menghadapi serangan tikus.

"Kalau kemarau ini serangan tikus berkurang karena enggak ada tanaman. Tapi bero, ada spot-spot jagung yang nekat menanam," terang dia.