"Beras fortifikasi dijual tertinggi Rp 57.000. Mana bisa orang miskin membeli harga Rp 57.000? Padahal begitu dicek, seharusnya harganya Rp 13.000. Karena vitamin tadi yang disyaratkan di labelnya itu tidak sesuai. Ini diduga ya, penipuan selisih Rp 44.000 per kilo, yang tertinggi ya," kata Amran dalam konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2026).

Amran menilai kondisi tersebut membuat beras fortifikasi tidak lagi tepat sasaran. Ia pun menaksir nilai dugaan praktik penipuan terkait beras fortifikasi mencapai Rp 89 triliun.

"Ini sudah tidak tepat sasaran. Kemudian saat ini juga ada praktek penipuan terhadap beras fortifikasi, nilainya ini estimasi ya, Rp 89 triliun. Sesuai data BPS, 39% beras yang beredar premium dan fortifikasi. Sekarang premium hilang, menjelma menjadi fortifikasi," tuturnya.