NADIKABAR.COM — Harga daging ayam di Pasar Ir. Soekarno, Sukoharjo mengalami kenaikan, hingga tembus Rp 42 ribu per kilogram. Hal tersebut membuat pedagang was-was dan konsumen mengeluh.

Salah seorang pedagang ayam di Pasar Ir. Soekarno, Sapardi (65), mengatakan kenaikan harga ayam itu terjadi satu bulan terakhir. Daging ayam sempat diangka Rp 36-38 ribu per kilogram.

"Harga ayam naik ini Rp 42 ribu. Naiknya mungkin karena pasokan agak berkurang, mau nggak mau naik. Sedangkan daya beli konsumen menurun, hanya pedagang kecil yang masih beli. Kalau masyarakat umum mikir-mikir, mungkin untuk kebutuhan lainnya yang lebih bermanfaat. Daging hanya sebagai tambahan," kata Supardi kepada awak media, Kamis (20/8/2026).

Dia mengaku, mahalnya harga daging ayam ini membuat penjualannya menurun. Selain itu, banyak konsumen yang mengeluh.

"Ini menurun, ini paling 4 kuintal, sebelumnya bisa 6-7 kuintal per hari. Masyarakat otomatis komplain harganya terlalu tinggi. Yang mau beli daging kan mikir-mikir untuk dibelikan yang lainnya," ucapnya.

Dia hanya bisa berharap harga ayam bisa segera turun lagi ke angka di bawah Rp 40 ribu per kilogram.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, Harga Eceran Tertinggi (HET) daging ayam diangka Rp 40 ribu per kilogram. Pihaknya terus memantau harga kebutuhan pokok tiap harinya, jika ada yang diatas HET akan dilakukan intervensi.

"Harga ayam dulu pernah turun ya. Harga ayam dulu Rp 36 (ribu), harga acuannya kan Rp 40 (ribu). Jadi kalau mendekati Rp 40 ribu kan bagus, karena peternak tidak dirugikan. Kalau harga Rp 36 terus kan peternaknya bisa tutup. Kalau peternak tutup, nggak ada ayam, kalau langka harganya jadi mahal," kata Budi saat kunjungan di Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo.

Dia menjelaskan, HET merupakan titik tengah tim redaksi keinginan konsumen dan produsen. Dia mengklaim, adanya MBG bisa menyerap barang kebutuhan pokok dan menjaga harga.

"Makanya kalau harganya mendekati Rp 40 itu bagus, terserap MBG ini bagus. Waktu libur kan nggak terserap, peternak pada protes kemarin, sampai ayamnya ada yang dibagi-bagi itu karena harga turun. Sekarang mendekati HET itu bagus, peternak bisa produksi terus. Itu yang kita harapkan peternak bisa produksi terus, peternak bisa produksi terus, harga bisa stabil, konsumen juga terjaga," jelasnya.