NADIKABAR.COM — Danantara Indonesia mendorong proyek pusat data (data center) berskala besar, terutama yang membutuhkan daya listrik tinggi seperti data center kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) agar membangun sumber energi sendiri.
Managing Director Danantara Investment Management Stefanus Ade Hadiwidjaja meminta jangan sampai kehadiran proyek data center jumbo yang membutuhkan sumber energi besar mengganggu pasokan energi industri dan masyarakat.
Stefanus mengatakan proyek data center berskala besar perlu memperhitungkan kebutuhan energi sejak tahap perencanaan, terutama berlaku bagi proyek dengan kapasitas di atas 500 megawatt (MW).
"Intinya kalau itu data center dalam skala besar misalnya di atas 500 megawatt, kita sebutnya BYOD, Bring Your Own Energy. Jadi kita juga tidak mau mengganggu pasokan energi yang ada di Indonesia sekarang, (yang) buat industrialisasi dan buat masyarakat," ujarnya di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (22/10).
Menurut Stefanus, dengan demikian kebutuhan energi proyek dapat direncanakan seiring dengan pengembangan infrastruktur pusat data.
Ia menyebut kalau pun proyek data center menggunakan pasokan listrik dari jaringan PLN, maka tarif listrik yang dikenakan harus tetap memungkinkan PLN memperoleh keuntungan. Danantara ingin memastikan investasi infrastruktur digital berskala besar tetap memperhatikan kelayakan bisnis sekaligus kepentingan Indonesia.
Stefanus menyampaikan pengembangan AI dan data center juga dapat menjadi salah satu peluang investasi yang tengah dibidik Danantara di Indonesia.
Ia menyatakan sejumlah proyek berskala besar berpotensi diumumkan atau mencapai penandatanganan kesepakatan dalam penyelenggaraan The New Asia Forum pada 3-4 Desember 2026 mendatang di Bali.
Forum tersebut diharapkan dapat menjadi wadah untuk mempertemukan investor dengan berbagai peluang investasi di kawasan Asia. Danantara juga ingin menarik lebih banyak investasi ke Indonesia, termasuk pada sektor infrastruktur digital yang membutuhkan dukungan energi dan infrastruktur pendukung lainnya.
Selain pasokan energi, Danantara turut menyoroti kebutuhan air dalam operasional data center. Stefanus mendorong pengelola pusat data untuk mengoptimalkan penggunaan air, termasuk melalui penerapan sistem sirkulasi tertutup atau closed-loop water system.
"Sebisa mungkin, kita mau ada water treatment system dan juga water desalinasi. jadi, mengoptimalisasi dari sisi air, semua investasi dilakukan dengan cara yang benar dan tepat ,baik untuk masyarakat dan juga buat environment," ujarnya.
Ia menjelaskan sistem tersebut memungkinkan air digunakan kembali dalam proses operasional sehingga kebutuhan air baru dapat ditekan. Penggunaan teknologi pengolahan air maupun desalinasi juga menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan untuk mendukung kebutuhan fasilitas data center.
Danantara memandang pengembangan proyek data center di Indonesia perlu memberikan manfaat bagi perekonomian nasional, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja.
Karena itu, investasi tidak hanya dilihat dari besarnya nilai proyek, tetapi juga dari kesiapan infrastruktur pendukung serta dampak yang dapat dihasilkan bagi Indonesia.
Selain itu, Danantara juga berharap investasi di sektor AI dan data center dapat memperkuat infrastruktur digital nasional. Namun, realisasi proyek berskala besar tetap bergantung pada kesiapan investasi, pemenuhan kebutuhan energi dan air, serta kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat.