NADIKABAR.COM — Gemuruh arus Sungai Cidadap yang meluap pada 17-18 Desember 2025 menjadi salah satu rekaman paling dramatis di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Di tengah kepungan air bah bercampur lumpur dan puing pepohonan di Kampung Cisarua, Desa Cidadap, seorang perwira Polisi Wanita (Polwan) berdiri memimpin evakuasi.

Tanpa ragu, ia menyeberangi jalur sungai berarus deras demi menyelamatkan Muhammad Aria, bayi berusia 8 bulan yang terperangkap di permukiman terisolasi, sembari membopong warga lanjut usia menuju lokasi pengungsian.

Perempuan itu adalah AKP Bayu Sunarti Agustina, yang kini mengemban amanah sebagai Kapolsek Simpenan. Peringatan Hari Polwan Republik Indonesia setiap 1 September merefleksikan kembali rangkaian panjang pengabdian perwira pertama tersebut, yang rekam jejaknya membentang dari ruang penyidikan reserse hingga medan tanggap darurat bencana.

Bagi Bayu, seragam dinas Polri bukan sebatas instrumen wewenang penegakan hukum, melainkan jembatan untuk menghadirkan rasa aman dan keadilan bagi kelompok masyarakat rentan.

Rekam jejak ketegasannya berakar kuat saat menjabat sebagai Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Kanit PPA) Satuan Reserse Kriminal Polres Sukabumi sejak Maret 2021.

Pada awal 2022, Bayu menjadi figur kunci dalam membongkar sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan eksploitasi seksual jaringan Sukabumi-Papua. Di bawah penanganannya, sejumlah anak di bawah umur yang hampir diterbangkan ke luar pulau berhasil diselamatkan dan dipulangkan kepada keluarganya.

Tak hanya kasus perdagangan orang, ia juga konsisten menyelesaikan puluhan berkas perkara kekerasan seksual serta perlindungan korban anak ke meja hijau.

"Melihat masa depan anak-anak nyaris terenggut karena kejahatan kemanusiaan adalah hal yang paling memilukan. Tugas kami bukan hanya menangkap pelakunya, melainkan memastikan anak-anak tersebut dapat kembali pulang dan memulihkan kembali harapan hidupnya," ujar Bayu mengenang aksinya kala itu.

Kepemimpinannya di level kewilayahan terus teruji saat dipercaya memimpin sejumlah polsek jajaran Polres Sukabumi, mulai dari Polsek Lengkong hingga Polsek Gegerbitung.

Di Lengkong, ia menginisiasi evakuasi kemanusiaan terhadap kakak-beradik dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terpasung di bilik kayu di pelosok Pabuaran, mengawal langsung rujukan medis mereka ke RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.

Saat memimpin Polsek Gegerbitung pada pertengahan 2024, kecepatan koordinasi dan naluri penyidikannya membuahkan hasil cepat dalam mengungkap kasus pembunuhan berencana bersama tim gabungan Polres Sukabumi.

Ketika berpindah tugas ke Polsek Simpenan, wilayah dengan kontur pesisir dan perbukitan rawan bencana menuntut kesiapsiagaan operasional tanpa henti.

Mulai dari penanganan jalur vital Bagbagan-Kiaradua yang ambles akibat longsor, merespons kebutuhan warga telantar dan ODGJ di jalanan, hingga evakuasi 38 warga Kampung Cisarua saat banjir bandang menerjang.

"Seragam ini adalah amanah pelayanan. Ketika masyarakat berada dalam situasi panik dan rentan, aparat harus hadir di barisan paling depan untuk merangkul dan memastikan mereka terlindungi," tuturnya.

Di tengah upaya Korps Bhayangkara memperkuat kepolisian yang humanis, rentetan dedikasi AKP Bayu Sunarti Agustina menjadi potret bagaimana ketegasan hukum dan naluri pengayom dapat berpadu, menegaskan hadirnya negara di tengah denyut kehidupan masyarakat.