Sejumlah perusahaan telah menempuh perjalanan jauh melintasi gunung dan lautan dari Fuqing, Provinsi Fujian di Tiongkok tenggara, menuju Pulau Jawa, menancapkan akar dan mulai membuahkan hasil.

Strategi lokalisasi perusahaan itu dimulai bahkan sebelum pabrik mereka memiliki dinding.

Saat pabrik masih dalam tahap pembangunan, Honggang merekrut mahasiswa dari universitas-universitas Indonesia dan membawa mereka ke China untuk menjalani pelatihan, kemudian mengirim mereka kembali untuk menjalankan operasional perusahaan di Indonesia sebagai tulang punggung manajemen, menjadi jembatan penghubung manusia antara kedua negara.

Bagi perusahaan tersebut, basis produksi di Indonesia memberikan manfaat yang lebih dari sekadar diversifikasi produksi.

Basis tersebut juga membantu Honggang mempertahankan pesanan yang sempat terancam hilang akibat friksi perdagangan dan, yang tidak kalah penting, menciptakan arus nilai dua arah, yaitu penelitian dan pengembangan dari China di satu sisi serta kapasitas manufaktur Indonesia di sisi lain, yang saling memperkuat.