Ekspansi bisnis ini turut didukung digitalisasi lewat aplikasi Tring! by Pegadaian, yang menjadi kanal terintegrasi bagi nasabah untuk bertransaksi emas tanpa harus datang ke outlet. Ekosistem Bank Emas di Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia kini mengelola sekitar 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp 360 triliun.

Transformasi bisnis ini turut membawa dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Sepanjang Semester I 2026, Pegadaian membukukan laba bersih Rp 6,59 triliun, tumbuh 84,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,58 triliun.

Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Damar Latri Setiawan mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kepercayaan masyarakat di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik global.

"Alhamdulillah, Pegadaian terus membukukan pertumbuhan kinerja di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik saat ini. Terima kasih kepada nasabah dan seluruh masyarakat Indonesia atas kepercayaan terhadap produk dan layanan Pegadaian," ujar Damar.

Menurut Damar, emas masih menjadi instrumen investasi yang diminati masyarakat karena karakteristiknya sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Emas terbukti menjadi aset aman (safe haven) yang paling diminati masyarakat. Dengan hadirnya layanan Bank Emas yang juga terintegrasi dengan Tring!, kami optimis dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap roda perekonomian nasional," ujarnya.

Dari gadai konvensional hingga ekosistem bank emas terintegrasi, perjalanan bisnis Pegadaian menunjukkan bagaimana transformasi mampu membuka peluang pertumbuhan baru. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi bagi perusahaan untuk terus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat Indonesia.

Pegadaian berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 6,59 triliun atau tumbuh 84,4% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 sebesar Rp 3,58 triliun.

Adapun realisasi total aset yang kini mencapai Rp 186,33 triliun atau meningkat 53,9% dari tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 121,1 triliun.

Pertumbuhan aset ini ditopang kuat oleh pencapaian Outstanding Loan (OSL) gross yang melesat ke angka Rp 155,1 triliun atau naik 52,7% dari capaian tahun sebelumnya senilai Rp 101,5 triliun.