NADIKABAR.COM — nama kopi nusantara biasanya tak lepas dari daerah asalnya. Sebut saja Gayo, Toraja, Lampung hingga Kintamani. Di lereng Gunung Ciremai, Jawa Barat, ada nama Java Buana Ciremai.

Nama ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian penikmat kopi. Padahal, tanaman kopi sendiri bukanlah hal baru di kawasan itu. Jejaknya bahkan disebut sudah ada sejak zaman Belanda, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Nama Java Buana Ciremai merujuk pada kopi dari lereng Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung ini memiliki ketinggian 3078 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Nama Java Buana Ciremai diangkat sebagai identitas kopi Arabika dari kawasan tersebut lewat proses sertifikasi Indikasi Geografis (IG). Tujuannya agar ketika kopi dibawa ke luar daerah, nama asalnya tetap melekat.

Di sisi lain, upaya ini juga diharapkan mampu membuat kopi dari lereng Gunung Ciremai lebih dikenal luas dan bisa tebar pesona hingga ke pasar dunia.

Dari kawasan lereng gunung itu, tanaman kopi terus dirawat dan dikembangkan oleh para petani. Termasuk di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Kabut tipis menyelimuti Cigugur, pagi itu. Wilayah yang berada di dataran itu merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Kuningan. Di sana, tanaman kopi tumbuh memenuhi perkebunan yang dikelola para petani.

Salah satu kebun kopi di kawasan tersebut dikelola oleh Kelompok Tani Pasir Tengah yang beranggotakan 30 orang. Ketua kelompoknya, Robi, mengajak melihat langsung tanaman kopi yang mereka kelola.

Lahan perkebunan kopi itu mengikuti kontur pegunungan. Jalan setapak hingga area tanam pun naik turun. Beberapa pohon terlihat telah berbuah, sebagian masih berwarna hijau, sementara lainnya sudah berubah merah.

Robi mengatakan kelompoknya mengelola lahan kopi seluas delapan hektare. Tanaman kopi itu tumbuh di tengah udara sejuk dan suasana pegunungan.

"Kelompok kita ada 30 orang. Lahan yang dikelola petani kurang lebih delapan hektare. Tapi bersama mitra petani jadi 16 hektare. Kita bareng-bareng sama mitra petani," kata dia saat ditemui di area perkebunan kopi, Kecamatan Cigugur, baru-baru ini.

Di lahan tersebut, ada tiga jenis kopi yang ditanam. Arabika menjadi yang paling dominan di tim redaksi dua jenis lainnya, seperti Robusta dan Liberika.

"Arabika, Robusta dan Liberika kita ada semua. Cuma kalau di sini memang 70 persen atau 80 persennya itu Arabika, sekitar 25 persen Robusta dan sisanya Liberika," kata Robi.

Robi mengatakan kopi jenis Liberika membutuhkan waktu lebih lama untuk berbuah, yakni sekitar empat tahun. Sedangkan Arabika sudah bisa dipanen sekitar satu setengah tahun setelah ditanam.

"Untuk Liberika pembuahan itu lebih lama, 4 tahun kita baru bisa belajar metik. Kalau di Arabika kita 1 tahun setengah. Dari biji kita semai sampai ke berbunga itu 1 tahun," terang Robi.

Tahun ini, dari lahan yang mereka kelola, kelompok tersebut bisa memanen kopi hingga sekitar 6 ton. Menurut Robi, tanaman kopi di lahannya masih tergolong muda. Karena itu, hasil panen diyakini masih dapat meningkat seiring bertambahnya usia tanaman dan perawatan yang dilakukan.

"Tahun ini sekitar 4 ton sampai 6 ton, karena nemang masih muda. Untuk tahun-tahun ke depan InsyaAllah ada peningkatan, dua atau bahkan tiga kali lipat. Apalagi dengan perawatan yang tepat, InsyaAllah hasil bisa lebih meningkat," kata dia.

Menurut Robi, dari sisi ekonomi bertani kopi sebenarnya cukup menjanjikan. Saat ini, harga jual kopi Arabika berada di kisaran Rp170 ribu per kilogram, sedangkan Robusta sekitar Rp85 ribu-Rp90 ribu per kilogram.

"Itu dalam bentuk green bean. Memang kebanyakan dalam bentuk green bean," kata dia.

Robi sendiri mulai mengembangkan kopi sejak beberapa tahun lalu, saat sebagian petani di kawasan tersebut masih lebih memilih tanaman hortikultura yang masa panennya lebih cepat.

Menurutnya, saat itu kopi belum banyak dilirik para petani sekitar karena membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa dipanen dibandingkan tanaman hortikultura.

"Saya berjalan dari tahun 2022. Untuk pengembangan waktu itu agak susah. Karena petani di kawasan pegunungan seperti ini lebih fokus ke hortikultura. Waktu saya menaman, malah dibilang 'ngapain nanem kaya gitu, kapan ketemunya'," kenang Robi.

Di sisi lain, kata Robi, para petani saat itu juga sempat khawatir soal pemasaran. Mereka mempertanyakan ke mana kopi akan dijual setelah masa panen.

Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa petani yang sebelumnya sempat ragu mulai berubah pikiran. Selain harga jualnya yang cukup menjanjikan, kopi juga sudah memiliki jalur pemasaran.