"Dua tahun ke belakang mereka mulai tertarik, karena harganya. Contohnya Robusta yang tadinya harganya belasan ribu jadi puluhan ribu. Siapa juga yang enggak tergiur," kata dia.
"Yang ditakutkan petani juga waktu itu dijualnya mau kemana. Makanya saya tantang, mau berapa ton juga saya tampung. Jadi yang ditakutkan petani itu mulai dari kapan panennya, sampai ke soal penjualannya," sambung Robi.
Robi menyebut, saat ini hasil panen kelompoknya lebih banyak dipasarkan dalam bentuk green bean. "Kita sesuai permintaan. Tapi kita memang kebanyakan green bean," ucap Robi.
Apa yang selama ini dilakukan Robi bersama kelompoknya tidak lain untuk menggaungkan kembali pesona kopi dari kawasan tersebut. "Kita ingin mengangkat lagi kopi dari Kuningan yang dulu sempat tidak ada, kita adakan kembali," kata dia.
Menurut Robi, dalam mengembangkan pertanian kopi, mereka juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, salah satunya Bank Indonesia (BI).
Dukungan yang diberikan mulai dari bantuan alat dan kebutuhan pertanian hingga membantu pemasaran kopi melalui berbagai kegiatan dan pameran.
Robi mengatakan, selain membantu menyediakan kebutuhan pertanian, BI juga kerap mengajak mereka mengikuti berbagai event untuk memperkenalkan dan memasarkan produk kopi.
"Dukungan dari BI mulai dari hulu ke hilir. Dapat semua untuk alat, bahan, segala rupa. Pemasaran alhamdulillah membantu juga, karena tiap-tiap event kita selalu diajak," ungkap Robi.
Tidak hanya berfokus pada proses menanam, memanen dan menjual hasilnya, para petani juga mulai memikirkan bagaimana mereka menjaga identitas kopi dari wilayahnya.
Saat ini Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai tengah mengurus sertifikasi Indikasi Geografis (IG) untuk kopi yang dihasilkan dari kawasan tersebut.
Sertifikasi ini ditujukan untuk kopi Arabika dari kawasan Gunung Ciremai yang mencakup Kabupaten Kuningan dan Majalengka dengan nama Java Buana Ciremai.
Ketua MPIG Buana Ciremai, Taufik Hernawan, mengatakan proses pengajuan sertifikasi itu saat ini sudah sekitar 90 persen.
"Yang lagi proses sertifikasi itu Arabika dari Ciremai, khususnya Kuningan dan Majalengka. Kalau orang tuh ibaratnya kita lagi dibikinin KTP. Nama yang kita usung Java Buana Ciremai, sekarang prosesnya sudah sekitar 90 persen," ujar Taufik.
Taufik menjelaskan, identitas tersebut penting untuk menjaga nama kopi dari lereng Ciremai ketika sudah dibawa ke luar daerah. "Kita berhak melindungi ini. Jadi nanti namanya enggak berubah," kata dia.
Ia menyebut, tanaman kopi sebenarnya bukan hal baru di wilayah itu. Di Kabupaten Kuningan sendiri, komoditas ini bahkan sudah dibudidayakan sejak era Belanda.
"Sejarah kopi di Kuningan ini sebenarnya sudah panjang. Kopi ini sudah ada dari zaman Belanda. Mulai masuk Kuningan itu tim redaksi tahun 1852 atau 1853 awalnya," kata Taufik.
Dari cita rasa, Taufik menjelaskan kopi yang tumbuh di kawasan Ciremai memiliki karakter yang dipengaruhi kondisi wilayahnya. Menurutnya, perbedaan kontur tanah dan iklim di setiap daerah membuat cita rasa kopi dari satu wilayah dengan wilayah lainnya bisa berbeda.
"Arabika kan kategori asam kopinya. Nah, asamnya beda-beda. Kalau di sini asamnya lebih ke lemon," kata Taufik.
Menurut Taufik, keinginan untuk mengurus IG sebenarnya sudah cukup lama, namun baru bisa berjalan setelah mendapat dukungan dari Bank Indonesia.
"Sebenarnya keinginan itu sudah tujuh tahun ke belakang. Tapi dulu kita belum punya modal, jadi cuma wacana dan wacana. Akhirnya kita coba ngobrol-ngobrol dengan orang BI dan direspons," ungkap Taufik.
Ia menjelaskan, jika sertifikasi IG diperoleh, pengolahan kopi juga akan mengikuti standar yang ditetapkan sehingga kualitas dan cita rasanya dapat lebih terjaga.
"Jadi nanti ketika kita ingin mengolah kopi yang baik itu kita punya SOP (Standar Operasional Prosedur). Tidak sembarangan," kata dia.
Arabika menjadi jenis kopi yang lebih dulu mereka dorong untuk mendapatkan sertifikasi IG. Jenis kopi ini dipilih karena permintaannya di pasar cukup tinggi dan harga jualnya dinilai menjanjikan.
"Pesona kopi yang diminati di dunia itu Arabika. Harganya bagus, demand-nya tinggi. Kita fokus dulu ke Arabika," ujarnya.