Taufik mengatakan kopi Arabika dari lereng Ciremai sendiri mulai dilirik pasar luar negeri. Sejauh ini, kopi tersebut sudah pernah dikirim ke Taiwan, meski jumlahnya masih terbatas.
"Kita pernah kirim ke Taiwan. Tapi baru bisa kirim 2 ton sampai 3 ton, karena keterbatasan bahan baku," kata dia.
Menurut Taufik, peluang pasar sebenarnya masih terbuka lebar. Ia menyebut ada calon pembeli dari 28 negara yang berminat dengan kopi Arabika dari lereng Ciremai.
Jika dihitung, kata Taufik, potensi permintaan dari calon pembeli tersebut mencapai sekitar 81 ton. Namun, produksi kopi saat ini belum mampu memenuhi permintaan tersebut.
"Kita sebenarnya potensial buyers itu ada 28 negara. Mereka sudah minat, kalau kita hitung itu sekitar 81 ton. Tapi kita untuk kemampuan dengan kualitas 81 ton itu belum punya," kata Taufik.
Kepala Kantor Perwakilan BI Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan kopi punya potensi ekspor yang cukup besar. Menurutnya, untuk menuju ke sana, yang perlu disiapkan bukan hanya jumlah kopi yang dihasilkan, tapi juga kualitas dan ketersediaannya.
"Kenapa kita pilih komoditas kopi karena potensi ekspornya tinggi. Nah, begitu kita bicara ekspor, tentu saja kita harus bicara kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Jadi semua program diarahkan untuk menuju ke sana," kata Wihujeng.
Karena itu, pendampingan dilakukan dari hulu sampai hilir. Mulai dari petani, kelembagaan, peningkatan kualitas sampai membantu pemasaran.
Salah satunya lewat pembentukan MPIG Buana Ciremai yang kini mengurus Indikasi Geografis (IG). Identitas ini dinilai penting supaya kopi dari lereng Ciremai tidak hanya dikenal karena rasanya, tapi juga karena daerah asalnya.
"Ketika dijual, identitas Buana Ciremai ini akan melekat. Kayak ke mana-mana Kopi Gayo. Itu kan jelas Kopi dari Aceh, Kopi Gayo. Nah, nanti harapannya dengan sudah ada indikasi geografis, kopi yang ada di sini di mana pun juga orang akan mengenal sebagai Java Buana Ciremai," ujarnya.
Wihujeng mengatakan kopi dari kawasan Ciremai sebenarnya sudah pernah dikirim ke luar negeri. Hanya saja, jumlahnya belum banyak dan kebanyakan masih berupa green bean.
"Kalau ekspor sudah ada, tapi mungkin belum banyak. Dan kebanyakan ekspornya dalam bentuk green bean," kata dia.
Karena itu, BI juga mulai melihat sisi pengolahannya. Harapannya, yang keluar dari Ciremai nantinya bukan hanya biji kopi, tetapi juga produk yang memiliki nilai tambah.
"Ini kita arahkan juga untuk dari sisi pengolahannya supaya nanti nama kopi ini juga bisa dibawa ke mana-mana," ujarnya.
Selain soal pengolahan, BI juga mendampingi petani untuk melihat kualitas kopi yang dihasilkan. Salah satunya lewat cupping score, sehingga kualitas kopi bisa diketahui.
"Karena dengan cupping score itu kita bisa mengetahui sebenarnya standarnya sampai di mana kualitasnya," terang dia.
Untuk memperluas pasar, kopi dari kawasan Ciremai juga dibawa ke sejumlah kegiatan. Seperti Cermai Coffee Culture, Java Coffee Culture, hingga World of Coffee di Bangkok.
"Kemarin ada Cermai Coffee Culture, terus ada Java Coffee Culture, terus secara nasional Bank Indonesia juga membawa kopi-kopi yang memang kualitasnya bagus dipilih, dikurasi ke World of Coffee. Termasuk kopi yang ada di Merta Coffee itu masuk ke World of Coffee Bangkok," kata dia.
Di Kabupaten Kuningan, Cigugur bukan satu-satunya daerah penghasil kopi. Sejumlah kecamatan lain juga menjadi penghasil berbagai jenis kopi, baik robusta maupun arabika.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah mengatakan, kopi robusta menjadi salah satu jenis kopi yang dihasilkan di Kecamatan Cilebak, Subang, Selajambe, Darma, Ciniru, Hantara, Cilimus, Ciwaru dan Karangkancana.
Sementara arabika merupakan salah satu jenis kopi yang dihasilkan di sejumlah kecamatan lain, seperti Cilebak, Darma, Cigugur, Cilimus dan Mandirancan.
Produksi kopi di Kabupaten Kuningan pun disebut mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar menyebut produksi kopi Kuningan pada 2023 tercatat sebanyak 775 ton. Dalam kurun waktu satu tahun, jumlahnya lalu meningkat menjadi 1.236 ton.
"Ini menunjukkan bahwa kopi bukan komoditas kaleng-kaleng, kopi bukan komoditas kecil lagi, kopi bukan lagi komoditas yang tidak punya masa depan. Ini saya yakin kalau kita garap ini akan membuahkan hasil yang maksimal," kata Dian, dikutip dari laman resmi Pemkab Kuningan.