NADIKABAR.COM — Kota biasanya dikenal melalui bangunan, kuliner, pusat perdagangan, atau sejarahnya. Untuk Kota Surabaya, Jawa Timur, kini memiliki cara lain memperkenalkan dirinya. Orang datang membawa sepatu lari, nomor peserta, dan rasa ingin tahu terhadap kota yang mereka lewati.
Fenomena itu terlihat dari semakin banyaknya agenda lari yang menjadikan Surabaya sebagai lintasan. Setelah Suroboyo 10K pada Juni 2026 dan MILO ACTIV Indonesia Race yang diikuti sekitar 6.000 pelari pada Agustus, JConnect Run Soerabaja 10K kembali dijadwalkan pada 27 September dengan target sedikitnya 3.500 peserta. Pada 4 Oktober, lebih dari 10.000 peserta juga dijadwalkan mengikuti Surabaya ISOPLUS Marathon 2026.
Rangkaian itu menunjukkan bahwa olahraga lari tidak lagi semata-mata urusan kebugaran. Ia mulai menjadi pintu masuk menuju wisata, perdagangan, kuliner, perhotelan, dan promosi kota. Pemerintah Kota Surabaya pun secara terbuka menempatkan kegiatan olahraga sebagai bagian dari pengembangan sport tourism dan mewajibkan penyelenggara melibatkan pelaku UMKM.
Di sinilah pertanyaan yang lebih penting muncul. Apakah ribuan orang yang datang untuk berlari benar-benar menjadi wisatawan? Apakah uang yang mereka bawa mengalir ke usaha warga? Atau mereka hanya datang beberapa jam, berlari, lalu pulang?
Sport tourism tidak boleh berhenti pada keramaian garis start dan finis.
Surabaya memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan wisata olahraga. Kota ini mudah dijangkau, memiliki jaringan hotel, pusat perdagangan, kuliner, ruang publik, dan kawasan bersejarah yang dapat dirangkai menjadi pengalaman wisata.