Konsep itu terlihat dalam Surabaya Marathon 2026. Pemerintah kota dan penyelenggara merancang lintasan yang melewati sejumlah ikon kota, antara lain Balai Pemuda, Balai Kota, Tugu Pahlawan, Jalan Tunjungan, kawasan Kota Lama, dan Bundaran Hotel Majapahit. Dengan demikian, pelari tidak sekadar mengejar jarak tempuh, tetapi juga diperkenalkan pada sejarah dan karakter kota.

Gagasan tersebut penting karena keunggulan sport tourism bukan hanya pada jumlah peserta. Nilai tambahnya muncul ketika kegiatan olahraga membuat orang tinggal lebih lama, mengunjungi lebih banyak tempat, makan di warung lokal, membeli oleh-oleh, menggunakan jasa transportasi, atau kembali ke kota bersama keluarga.

Data perhotelan Surabaya menunjukkan ekosistem kunjungan memang cukup aktif. Tingkat penghunian kamar hotel secara total mencapai 53 persen pada Juni 2026, naik dari 49,95 persen pada Mei. Rata-rata lama menginap pada Juni mencapai 1,38 malam.

Angka itu tentu tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu ajang olahraga, tetapi memberi gambaran mengenai ruang yang tersedia bagi kegiatan pariwisata untuk mendorong konsumsi akomodasi.

Karena itu, tantangannya bukan lagi mendatangkan orang ke Surabaya. Tantangannya adalah membuat mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.

Satu lomba lari dapat selesai dalam hitungan jam, namun pengalaman wisata bisa diperpanjang menjadi dua atau tiga hari melalui paket rute kuliner, kunjungan kawasan sejarah, wisata museum, pasar rakyat, pertunjukan seni, hingga rekreasi keluarga.