Sementara di sisi tenggara Sumatra, Stasiun Tanjungkarang memiliki perjalanan sejarah yang erat dengan perkembangan jalur kereta api dan Pelabuhan Panjang. Pembangunannya dimulai pada 1911 dan stasiun tersebut diresmikan pada 30 Juni 1914. Pada masa awal, Tanjungkarang ikut melayani pergerakan pegawai dan material dari Pelabuhan Panjang sebelum kemudian berkembang menjadi salah satu stasiun utama di Lampung.
Lebih dari satu abad kemudian, aktivitasnya tetap kuat. Sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Tanjungkarang mencatat 562.993 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 280.094 pelanggan berangkat dan 282.899 pelanggan tiba. Jumlah tersebut tumbuh 13,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 493.881 pergerakan.
Anne mengatakan keberadaan titik-titik tersebut memperlihatkan bahwa stasiun memiliki makna lebih luas daripada tempat memulai dan mengakhiri perjalanan.
“Dari Merak yang menghadap Selat Sunda, Ketapang yang membuka perjalanan menuju Bali, Krueng Mane di Aceh, hingga Tanjungkarang yang tumbuh bersama sejarah Lampung, setiap stasiun memiliki cerita wilayahnya sendiri. Rel menghubungkan cerita itu dengan kehidupan masyarakat hari ini, dan kami ingin konektivitas tersebut terus memberi manfaat bagi perjalanan, ekonomi, keluarga, dan pariwisata di berbagai daerah,” tutup Anne.