Di barat Pulau Jawa, Stasiun Merak berada dekat dengan Pelabuhan Merak yang menghubungkan Jawa dan Sumatra melalui penyeberangan Selat Sunda. Jejak kereta api menuju Merak telah hadir sejak awal abad ke-20 dan sampai sekarang stasiun tersebut melayani perjalanan masyarakat pada lintas Rangkasbitung–Merak. Kedekatan stasiun dan pelabuhan membuat perjalanan dapat diteruskan menuju Sumatra melalui penyeberangan Merak–Bakauheni.
Di sisi timur Jawa, perjalanan rel mencapai Stasiun Ketapang di Banyuwangi. Sejarah jaringan kereta api di kawasan tersebut bermula ketika jalur menuju Banyuwangi dibuka pada 2 Februari 1903. Seiring perkembangan kawasan dan perpindahan aktivitas pelabuhan, jaringan kemudian menjangkau Ketapang. Kini stasiun tersebut menjadi salah satu akses menuju Banyuwangi sekaligus perjalanan lanjutan ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk.
Aktivitasnya terus bertumbuh. Sepanjang Januari–September 2026, Stasiun Ketapang mencatat 615.161 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 292.618 pelanggan berangkat dan 322.543 pelanggan tiba. Jumlah tersebut meningkat 8,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 566.643 pergerakan.
Cerita berbeda berada jauh di barat Sumatra. Stasiun Krueng Mane di Aceh menjadi salah satu titik ujung layanan penumpang aktif pada jaringan KA Cut Meutia yang menghubungkan Krueng Geukueh–Bungkaih–Krueng Mane. Kehadiran layanan tersebut membuat perjalanan kereta api tetap menjadi bagian dari mobilitas masyarakat Aceh sekaligus meneruskan jejak panjang perkeretaapian di bagian utara Sumatra.