NADIKABAR.COM — Sejumlah pencari kerja di Jakarta Selatan memberikan kisah perjuangannya untuk mencari kesempatan di Ibu Kota, mulai dari Papua hingga lanjut usia (lansia) yang bekerja serabutan.
"Sebetulnya saya ke Jakarta untuk kuliah beasiswa. Kemarin baru lulus, sekarang tujuannya ingin kerja untuk mencari pengalaman baru, tidak harus terpaku pada jurusan kesehatan saja," kata Dominggu Balagaize (23) kepada wartawan di Jakarta, Minggu.
Dominggu merupakan seorang pemuda asal Merauke, Papua Selatan. Lulusan D3 Teknisi Gigi ini menginjakkan kaki di Jakarta
melalui jalur beasiswa program kerja sama Dinas Kesehatan Papua Selatan dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes/BPPSDM).
Setelah menyelesaikan studi selama empat tahun pada 2022, ia kini berjuang mencari peluang kerja di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Pemuda tersebut mengaku sempat mencoba melamar secara daring dan menerima panggilan dari luar pulau, seperti Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Jawa Tengah. Namun, restu keluarga menahannya untuk tetap berada di sekitar ibu kota.
"Orang tua belum mengizinkan jauh-jauh karena saya baru lulus. Makanya cari di Jabodetabek dulu. Nanti kalau sudah punya karier dan pekerjaan tetap, baru ada niat pulang ke Papua, karena biaya kembali ke sana juga tidak sedikit," katanya.
Terlebih, dia tak menampik ketatnya persaingan bursa tenaga kerja saat ini, di mana lulusan setingkat SMA/SMK hingga perguruan tinggi sekalipun kerap kesulitan menembus pasar kerja. Kendati demikian, ia tetap memelihara asa dan mempersiapkan fisik maupun mental.
"Harapan saya, pemerintah bisa memberi peluang lebih besar bagi masyarakat kecil dan keluarga tidak mampu agar lebih mudah memperoleh akses pekerjaan," katanya.
Sementara, warga Klender, Jakarta Timur bernama Jupri (59) mengaku tetap percaya diri melangkah dari stan ke stan, bersaing dengan ribuan pelamar yang didominasi generasi muda.
Pria lulusan S1 Manajemen Informatika asal Padang, Sumatera Barat ini sebelumnya bekerja selama 25 tahun sebagai koordinator lapangan dan kantor di sebuah perusahaan pelabuhan.
Namun, perjalanan panjangnya terhenti pada 2023 setelah perusahaan tempatnya bernaung tutup akibat kalah proses tender.
Demi menafkahi keluarga dan membiayai dua anaknya, selama ini dia melakoni berbagai pekerjaan serabutan.
Dalam bursa kerja pertamanya ini, Jupri telah mengirimkan berkas lamaran digital ke lebih dari 20 perusahaan di bursa kerja tersebut. Ia mengakui peluangnya terbilang tipis karena faktor usia, tetapi ia memilih untuk tetap berikhtiar secara maksimal.
Dalam akhir keterangannya Jupri menitipkan pesan dan harapan kepada pemerintah, khususnya Kementerian Ketenagakerjaan, agar meninjau kembali kebijakan batas usia dalam perekrutan tenaga kerja.
"Pesan saya untuk pemerintah, tolong jalur tenaga kerja dibuka seluas-luasnya, dan kalau bisa jangan ada batasan usia seperti di luar negeri. Selama masih mampu dan produktif, beri kesempatan yang sama," katanya.