NADIKABAR.COM — Pada malam 1 Oktober, Pakistan melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Afghanistan. Berapa jumlah korban menjadi perselisihan antara kedua pihak. Taliban Afghanistan menyebut sembilan hingga sepuluh warga sipil tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Sebaliknya, Pakistan mengklaim telah menewaskan 22 militan serta menghancurkan gudang senjata dan amunisi.
Serangan itu menjadi puncak eskalasi yang kembali memanas sejak pertengahan September, setelah hampir tiga bulan relatif tenang.
Pemicu ketegangan adalah gelombang serangan terhadap aparat keamanan Pakistan. Pada 18 September, serangan terhadap kompleks kepolisian di Kota Kohat, Pakistan barat laut, menewaskan 31 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Sebuah faksi sempalan dari kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) mengaku bertanggung jawab atas aksi tersebut.
Islamabad kembali menuduh Afghanistan menyediakan tempat berlindung bagi TTP. Tuduhan itu dibantah Kabul. Tak lama kemudian, Pakistan melancarkan serangan udara dan bentrokan di perbatasan pun terjadi.
TTP tidak berkaitan dengan Taliban Afghanistan. Kelompok ini merupakan organisasi tersendiri yang memerangi negara Pakistan. Namun, TTP memiliki kedekatan ideologis dan hubungan personal yang kuat dengan Taliban Afghanistan. Banyak pejuangnya pernah bertempur bersama Taliban melawan pasukan internasional. Setelah Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, ruang gerak TTP ikut melebar. Bagi Pakistan, lingkungan yang dulu dianggap sebagai sekutu kini justru berkembang menjadi ancaman keamanan.
Selama bertahun-tahun Pakistan mendesak Taliban untuk menindak TTP. Namun, kedekatan kedua gerakan itu membuat tuntutan tersebut sulit dipenuhi. "Karena adanya hubungan pribadi dan jaringan yang sudah lama terbentuk, sangat sulit bagi Taliban Afghanistan untuk melepaskan diri dari keterkaitan tersebut," kata peneliti perdamaian dan konflik Conrad Schetter dari Bonn International Center for Conflict Studies (BICC).
Meski demikian, menurut Schetter, hubungan itu tidak otomatis berarti Taliban secara sadar mengendalikan TTP. Jaringan yang ada memang nyata dan terbentuk secara historis, tetapi pengaruh langsung yang kuat dinilainya kecil kemungkinan terjadi.
"Taliban sama sekali tidak bersedia menerima perintah dari Islamabad. Mereka tidak akan membiarkan pihak luar menentukan kebijakan mereka," ujar Thomas Ruttig, pendiri Afghanistan Analysts Network. Bagi Pakistan, kondisi ini menunjukkan bahwa perhitungannya untuk mendukung Taliban demi memperoleh pengaruh di Afghanistan tidak berjalan sesuai harapan.
Konflik kedua negara juga berakar pada persoalan yang jauh lebih tua: Garis Durand yang ditetapkan Inggris pada 1893. Perbatasan modern Afghanistan dan Pakistan mengikuti garis tersebut. Bukan hanya memisahkan dua negara, batas itu juga membelah wilayah yang dihuni etnis Pashtun di kedua sisi.