Karena itu, sengketa perbatasan tidak semata berkaitan dengan wilayah, melainkan juga identitas. "Elemen etnis dan nasionalisme memainkan peran besar dalam konflik ini," kata Schetter. Hingga kini, banyak warga Pashtun masih menolak menerima batas yang membelah wilayah tradisional mereka.
Bagi Pakistan, faktor lain yang tak kalah penting adalah rivalitas dengan India. Selama bertahun-tahun Islamabad menginginkan Kabul yang bersahabat sebagai keuntungan strategis dalam persaingan dengan New Delhi. Namun situasi berubah setelah India memperkuat hubungannya dengan Taliban. Dalam analisis lembaga kajian Chatham House disebutkan bahwa Afghanistan, yang dulu dianggap sumber "kedalaman strategis" Pakistan, kini semakin dipandang sebagai beban keamanan.
Pakistan memiliki alat tekan yang efektif, yakni ketergantungan ekonomi Afghanistan. Sebagai negara yang tidak memiliki akses ke laut, Afghanistan sangat bergantung pada jalur perdagangan dan transit melalui negara-negara tetangganya, terutama Pakistan.
Islamabad dapat memanfaatkan penutupan perbatasan atau pembatasan perdagangan untuk menekan Kabul. Di sisi lain, pemerintahan Taliban berupaya mengurangi ketergantungan tersebut dengan mencari mitra ekonomi dan politik baru.
Situasi ini membuat upaya perundingan kerap menemui jalan buntu. Pakistan pernah bernegosiasi dengan TTP melalui mediasi Taliban Afghanistan. Sejumlah gencatan senjata juga sempat disepakati, sementara negara lain ikut berupaya menjadi penengah. Islamabad dan Kabul pun beberapa kali menggelar dialog. Namun, bahkan kesepakatan sementara tidak pernah menjawab pertanyaan utama: bagaimana mencegah serangan dari wilayah Afghanistan secara permanen.
Di saat yang sama, Pakistan terus menggunakan instrumen tekanan ekonomi dan politik, mulai dari penutupan perbatasan, pembatasan perdagangan hingga pemulangan pengungsi Afghanistan. Akibatnya, isu keamanan dan tekanan politik-ekonomi semakin saling terkait.
Analisis Council on Foreign Relations menunjukkan bahwa Taliban memiliki kekhawatiran tersendiri. Tindakan keras terhadap TTP dikhawatirkan justru mendorong sebagian anggota kelompok itu bergabung dengan ISIS-K. Sementara bagi Pakistan, TTP tetap dipandang sebagai ancaman keamanan yang paling mendesak.
Eskalasi terbaru memperluas dimensi konflik. Pada akhir September, Kabul menyatakan telah menewaskan 28 orang dan menangkap 32 pejuang yang disebut menyusup dari Pakistan ke Provinsi Nuristan. Pemerintah Afghanistan juga menuduh Islamabad mendukung kelompok bersenjata penentang Taliban. Pakistan membantah tuduhan tersebut.