Peresmian trem listrik dilakukan di belakang Bataviasche Planten En Dierentuin atau Kebun Binatang Batavia di kawasan Cikini, Menteng. Di lokasi tersebut juga dibangun depo trem BETM yang dilengkapi fasilitas bengkel serta ruang mesin pembangkit tenaga listrik.

Pada masa awal operasionalnya, jaringan trem listrik Batavia menghubungkan sejumlah kawasan seperti Harmoni, Tanah Abang, Menteng, Kramat, Pasar Senen, Pintu Besi, hingga Stasiun Batavia.

Kehadiran trem listrik menjadi salah satu tonggak awal penggunaan teknologi listrik pada transportasi berbasis rel di Indonesia.

Perkembangan teknologi listrik kemudian berlanjut pada sistem kereta api. Setelah pembangunan infrastruktur elektrifikasi dilakukan, kereta listrik pertama Indonesia mulai beroperasi pada 6 April 1925 melalui lintas Tanjung Priok–Meester Cornelis (Jatinegara).

Kehadiran kereta listrik menjadi bagian penting dalam perkembangan mobilitas masyarakat perkotaan. Jaringan kereta listrik kemudian terus berkembang hingga menghubungkan wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Pada 1930, layanan kereta listrik menuju Batavia–Buitenzorg (Jakarta–Bogor) mulai beroperasi penuh.

Setelah Indonesia merdeka, teknologi kereta listrik terus berkembang mengikuti pertumbuhan kota dan kebutuhan perjalanan masyarakat. Kereta Rel Listrik (KRL) kemudian menjadi salah satu moda utama transportasi perkotaan, khususnya di wilayah Jabodetabek.

Peran layanan kereta listrik semakin besar dalam mendukung mobilitas masyarakat. Hingga Agustus 2026, KAI Group telah melayani 351.602.397 pelanggan, meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kereta api terus meningkat, termasuk layanan berbasis elektrifikasi.

Perjalanan teknologi rel listrik kemudian memasuki babak baru melalui hadirnya LRT Jabodebek pada 2023.