UNAIDS memperkirakan infeksi baru HIV di Fiji meningkat 12 kali lipat antara 2010 dan 2025. UNAIDS juga memperkirakan terdapat 9.100 orang yang hidup dengan HIV pada 2025.

Dari jumlah tersebut, hanya 39 persen yang mengetahui status HIV mereka dan 22 persen yang mendapat terapi antiretroviral.

Meski demikian, UNAIDS mengatakan perkembangan medis dalam beberapa tahun terakhir dan semakin efektifnya pengobatan masih membuka peluang untuk membalikkan keadaan.

"Deklarasi krisis nasional adalah seruan untuk bertindak, bukan untuk menimbulkan ketakutan. HIV tidak menular melalui kontak sehari-hari, dan orang yang menjalani pengobatan efektif dengan viral load tidak terdeteksi tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual," kata Eamonn Murphy dari UNAIDS. "Fiji masih memiliki kesempatan untuk mengubah arah epidemi ini."

Direktur UNAIDS untuk Fiji, Renata Ram, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa tingkat penularan mulai meningkat sekitar 2019. Saat itu muncul kelompok pengguna narkoba suntik yang tergolong "sangat berisiko tinggi", terutama di kalangan komunitas pekerja seks.

Negara-negara kepulauan Pasifik seperti Fiji dalam beberapa tahun terakhir menjadi jalur transit narkoba dari Amerika Latin dan Asia menuju pasar Australia dan Selandia Baru yang menguntungkan.

Arus narkoba itu juga mendorong peningkatan penggunaan narkoba di negara-negara kepulauan tersebut. Dalam sejumlah kasus, sindikat kejahatan dari luar negeri membayar mitra lokal mereka dengan narkoba sebagai imbalan atas jasa yang diberikan.