Puncak kontribusi kebudayaannya mengangkasa saat dia mendirikan kelompok kesenian yang diberi nama Swara Mahardhika pada 1977. Melalui wadah ini, Guruh merevolusi lanskap seni pertunjukan Indonesia.
Ia menggabungkan seni tari daerah, musik pop, dan tata panggung kolosal yang presisi. Anak-anak muda pada zamannya dibuat terpesona dan bangga membawakan tarian Nusantara di atas panggung besar yang dipenuhi lampu warna-warni.
Tidak sedikit anggota Swara Maharddika yang kemudian menjadi bintang-bintang besar di panggung seni pentas dan budaya, sebut saja Denny Malik, Titi DJ, Restu Kusumaningrum, Memes, Marissa Haque juga Soraya Haque.Kemampuan Guruh dalam mengeksplorasi seni musik Indonesia, dituangkan dalam karya berjudul "Guruh Gipsy" pada 1976. Kolaborasinya bersama musisi-musisi andal seperti Abadi Soesman, Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, dan Oetje F Tekol diakui sebagai salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah musik Indonesia. Dalam album tersebut, Guruh secara berani membenturkan harmoni gamelan Bali dengan musik progressive rock modern.
Lagu-lagu ciptaannya juga menjadi karya yang tak pernah lekang waktu dalam industri musik tanah air. Sebut saja lagu "Anak Jalanan "(1978), "Melati Suci" (1980), "Lenggang Puspita" (1986), "Zamrud Khatulistiwa" (1987), "Seni" (1990), hingga "Candu Asmara" (1998). Lagu- lagu ini tak hanya memanjakan telinga lintas generasi, tetapi juga menyimpan kedalaman makna akan rasa cinta, spiritualitas, dan jiwa kebangsaan.
Tak berhenti di studio rekaman dan panggung tari, keberanian artistiknya juga terwujud dalam rangkaian pergelaran kolosal bertajuk "Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra" (1979), "Untukmu Indonesiaku! "(1980), "Cinta Indonesia" (1984), hingga "Gilang Indonesia Gemilang" (1986).