Doktor teknik kedirgantaraan dari Tokyo Metropolitan University, Jepang itu memaparkan kondisi di Eropa mengharuskan cahaya teleskop menembus lapisan udara yang hampir dua kali lebih tebal, berbanding terbalik dengan kemudahan pemantauan langsung dari langit Nusantara.
"Kalau dari Indonesia, deretan itu melintas hampir tepat di atas kepala kita, jadi mudah untuk kita amati," ujar dia melanjutkan.
Selain letak lintangnya, kata Andre, keunggulan kedua dari fasilitas riset kebanggaan Indonesia tersebut terletak pada jarak sudut pandangnya (field of view) yang sangat luas karena berada di belahan bumi selatan.