Pengoperasian teleskop raksasa berukuran 3,8 meter di Observatorium Timau ini memungkinkan terjadinya pengamatan silang dengan fasilitas astronomi dunia lainnya, seperti Observatorium Zimmerwald di Swiss.
Menurut dia, sinergi sudut pandang antarbenua sangat vital lantaran waktu malam hari di bumi terjadi secara bergantian, sehingga pemantauan lintasan satelit harus dilakukan secara berkesinambungan tanpa putus.
Andre berharap kehadiran Observatorium Timau tidak sebatas menjadi katalog data secara mandiri, melainkan menjadi wujud nyata kontribusi aktif Indonesia dalam menjaga keselamatan jalur orbit bumi lewat kolaborasi internasional.