NADIKABAR.COM — Dampak dari unjuk rasa pada 13 Oktober masih terlihat saat mahasiswa dan dosen Universitas Tirana berkumpul di depan Kementerian Pendidikan, di ibu kota Albania, pada Selasa (20/10), untuk kembali menyuarakan ketidakpuasan mereka.
Kaca-kaca jendela yang pecah belum diganti, sementara dinding bangunan masih menghitam akibat kebakaran yang terjadi saat demonstrasi. Selama hampir lima bulan, Albania dilanda gelombang protes damai terhadap pemerintah. Aksi ini awalnya dipicu oleh rencana pembangunan kompleks hotel mewah di kawasan konservasi alam oleh Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bersama sejumlah rekannya. Rencana tersebut mencuat ke publik dan memicu penolakan.
Sejak saat itu, demonstrasi antipemerintah dan antikorupsi terus meningkat. Mahasiswa dan pelajar sekolah menengah kini hampir setiap hari terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian. Bentrokan paling sengit sejauh ini terjadi pekan lalu.
Para demonstran mengecam korupsi, buruknya pengelolaan universitas, serta meningkatnya biaya pendidikan di Albania. Mereka juga menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, yang telah menjabat sejak 2013.
Mengenakan jaket hitam bertudung dan syal yang menutupi wajahnya untuk menyembunyikan identitas, seorang perempuan yang meminta dipanggil Sara mengatakan kepada DW bahwa ia khawatir menghadapi konsekuensi jika berbicara kepada pers.
"Para demonstran berkomunikasi lewat pesan teks. Hanya itu caranya," ujarnya.
Sara mengakhiri wawancara lebih awal ketika sejumlah demonstran mulai melempari gedung Kementerian Pendidikan dengan batu. Polisi kemudian mendorong demonstran dan jurnalis menjauh dari lokasi serta menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.
"Media sosial kini menjadi ruang publik paling penting, bahkan lebih penting daripada ruang fisik," kata Besmir Semanaj, seorang pegiat keamanan siber terkemuka di Albania, kepada DW.
"Anak-anak muda Albania tidak lagi mengorganisasi diri lewat struktur tradisional seperti partai politik, asosiasi, atau seruan terbuka kepada publik. Sebaliknya, mereka mengorganisasi diri lewat perangkat yang menjadi bagian dari keseharian mereka, yaitu ponsel," tambahnya.
Menurut Semanaj, saluran komunikasi yang paling banyak digunakan antara lain Instagram, grup WhatsApp berdasarkan angkatan, jurusan, dan asrama mahasiswa, serta kanal Telegram untuk menyebarkan pengumuman umum. Sementara TikTok digunakan untuk membagikan video. Ia menambahkan, mereka yang sangat memperhatikan keamanan komunikasi juga menggunakan aplikasi pesan Signal.
"Ini merupakan struktur organisasi horizontal, tanpa 'pemimpin' individual dan tanpa komando terpusat," kata Semanaj. "Itulah yang membuat pemerintah kesulitan memahami dan mengendalikan situasi," ucapnya.