Rama menyebut gelombang perlawanan anak muda tersebut sebagai "perang hibrida". Ia mengatakan para demonstran mengira mereka dapat "membuat Albania menjadi negara yang lebih baik lewat TikTok, padahal mereka bahkan tidak mampu merangkai lebih dari tujuh kata yang masuk akal".

Menurut Rama, meskipun tidak semua demonstran merupakan teroris. Namun, ia menuduh mereka terpengaruh ideologi yang bertujuan menghancurkan dan menjungkirbalikkan tatanan yang ada.

Selama hampir lima bulan, Rama telah menuding berbagai pihak sebagai dalang di balik demonstrasi antipemerintah dan antikorupsi. Ia menuduh pemerintah Yunani, Rusia, dan Iran turut mengobarkan ketidakpuasan masyarakat.

Terbaru, Rama menuding "Antifa", atau gerakan antifasis global yang terdesentralisasi, sebagai pihak yang memicu sentimen antipemerintah dan antikorupsi di Albania.

"Mereka adalah anak-anak muda yang telah diradikalisasi dan didoktrin secara ideologis, serta bertindak di bawah tekanan atau pengaruh kekuatan baru yang gelap, yang muncul di Eropa dan Amerika Serikat. Kekuatan ini telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Presiden Amerika Serikat, yaitu Antifa," klaim Rama.

Namun, Redion Qirjazi, peneliti bidang keamanan yang berfokus pada pencegahan kekerasan dan penyelesaian konflik, mengatakan kepada DW bahwa tuduhan Rama tersebut kecil kemungkinannya terbukti benar.

"Itu tuduhan serius yang membutuhkan bukti sama kuatnya," kata Qirjazi. "Hingga saat ini, belum ada bukti yang dapat diverifikasi untuk membuktikan keberadaan struktur Antifa yang terorganisasi di Albania, apalagi keterlibatannya dalam mengoordinasikan demonstrasi."

Menurut Qirjazi, rujukan Rama terhadap pernyataan Trump yang menyebut Antifa sebagai kelompok teroris juga bermasalah.

"Antifa bukanlah organisasi internasional tunggal dengan struktur atau kepemimpinan terpusat. Istilah ini merupakan sebutan umum bagi berbagai gerakan dan kelompok yang memiliki satu kesamaan mendasar, yakni sikap antifasis," ujarnya.

Sara pun menolak label "teroris" yang disematkan Rama kepada dirinya dan sesama demonstran.

"Memang ada kelompok yang bersedia menggunakan kekerasan. Itu benar. Namun, saya tidak ada hubungannya dengan mereka," katanya. "Begitu saya melihat kekerasan, saya menjauh. Saya menentangnya," tambahnya.