Arlind Qori, ketua Together Movement, partai oposisi berhaluan sosial demokrat yang hanya memiliki satu kursi di parlemen Albania, mengatakan anak-anak muda turun ke jalan karena ketidakpuasan terhadap kondisi yang ada, bukan karena ideologi tertentu.

"Anak-anak muda Albania marah terhadap kondisi sosial-ekonomi saat ini: kemiskinan, banyaknya orang tua mereka yang terpaksa beremigrasi karena tidak mampu menghidupi keluarga, kemerosotan sistem pendidikan, serta minimnya prospek setelah lulus," kata Qori.

Ia menambahkan, tuntutan utama mahasiswa adalah pengunduran diri Rama, bukan sebuah revolusi sosialis.

"Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang radikal. Mereka hanya ingin kepala pemerintahan yang korup mengundurkan diri. Itu tuntutan mendasar dan moderat. Namun, Edi Rama terus merespons tuntutan tersebut dengan kekerasan polisi dan sikap arogan," ujar Qori.

Qirjazi menilai tuduhan Rama mengenai campur tangan pihak asing bisa jadi merupakan sebuah strategi politik.

"Ketika pemerintah menghadapi demonstrasi dan ketidakpuasan publik, mengaitkan para demonstran dengan ekstremisme dan pengaruh asing dapat mengalihkan perhatian dari akar persoalan menuju narasi keamanan nasional," katanya.

Menurut Qirjazi, langkah tersebut dapat digunakan untuk merusak kepercayaan publik terhadap demonstran, melemahkan dukungan masyarakat terhadap mereka, serta membenarkan tindakan represif yang lebih keras atas nama hukum dan ketertiban.

Semanaj mengatakan pola tersebut kerap digunakan pemerintah untuk mengabaikan atau mendiskreditkan suara-suara kritis.

"Demonstrasi digambarkan sebagai aksi kekerasan. Anak-anak muda dicitrakan sebagai pihak yang dimanipulasi, sementara persoalan sah yang mereka angkat, seperti kondisi universitas, biaya kuliah, korupsi, dan minimnya prospek masa depan, menghilang dari agenda pemberitaan," ujarnya.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman