Bentrokan di Milan berlanjut hingga Minggu (18/10) waktu setempat, dengan para demonstran terus melempari polisi dengan bebatuan dan menjarah pertokoan. Polisi antihuru-hara yang dikerahkan ke lokasi, melepaskan tembakan gas air mata dan menggunakan meriam air ke arah ratusan demonstran yang melakukan penjarahan dan aksi pembakaran di area Piazza Duomo.
Bentrokan serupa juga terjadi di wilayah Bologna, yang menjadi lokasi digelarnya unjuk rasa memprotes tingginya biaya hidup. Meriam air sempat digunakan oleh personel kepolisian di Bologna untuk membubarkan para demonstran.
Aksi protes juga terjadi di beberapa kota lainnya di Italia. Total sebanyak 28 demonstran ditangkap menyusul bentrokan yang terjadi di beberapa kota di Italia, seperti Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin.
Perdana Menteri (PM) Italia, Giorgia Meloni, mengecam kekerasan yang terjadi dalam unjuk rasa tersebut. "Berunjuk rasa adalah hak. Mengubah kota-kota kita menjadi medan pertempuran bukanlah sebuah hak," tegasnya.
Unjuk rasa juga pecah di Belgia, yang sebagian terinspirasi oleh aksi serupa di Prancis. Ratusan demonstran, yang sebagian besar kaum muda, berunjuk rasa di area ibu kota Brussels pada Sabtu (17/10), dengan beberapa demonstran terlibat bentrokan dengan polisi.
Kelompok mahasiswa di Belgia menyatakan aksi protes tersebut dilakukan untuk menentang biaya pendidikan yang meningkat dan reformasi yang dikhawatirkan membuat pendidikan tinggi semakin sulit dijangkau.
Dalam aksinya, para demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-fasis. Beberapa demonstran menggulingkan sebuah mobil yang ada di sekitar lokasi demo, dengan polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan para demonstran.