Firman menjelaskan studi tersebut menggunakan modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang disusun DEN bersama BPS dan sejumlah lembaga lain sejak tahun lalu.

Modul itu mulai digunakan pada September 2025 untuk mengukur dampak program MBG terhadap sejumlah aspek, termasuk absensi siswa, semangat belajar, dan rasa lapar selama berada di sekolah.

Dalam aspek kehadiran, DEN menemukan siswa penerima MBG relatif lebih jarang absen dibandingkan dengan siswa non penerima. Perbedaan tersebut terlihat lebih besar pada kelompok masyarakat paling miskin atau desil satu.

Menurut Firman, semakin tinggi intensitas penerimaan MBG di sekolah, semakin besar pula penurunan absensi siswa yang teramati dalam studi tersebut.

"Jadi, ketika dia non penerima MBG, dia akan sering absen. Sementara kalau penerima MBG, dia akan relatif tidak absen ke sekolah, dan ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya. Jadi, saya kira ini satu hal yang positif," ucapnya.