"Pada bulan Januari 1937, tatkala Ong Leng Yauw berusia 68 tahun, kesaksiannya tentang dahsyatnya letusan Krakatau 1883 yang disertai gelombang tsunami itu ia kemukakan kepada Kwee Tek Hoaij yang sedang singgah di Desa Nelayan Karangantu Banten dalam rangka mengunjungi Klenteng Kwam-Im Banten. Kwee Tek Hoaij lalu menulis catatan perjalanan dan menyertakan kesaksian Ong Leng Yauw di dalamnya," tulis Romi Zarman.
Ong Leng Yauw selamat karena dia disuruh ibunya membeli kue ke wilayah yang jauh dari Desa Karangantu yang lokasinya di pelabuhan. Di tengah perjalanan membeli kue, Krakatau Meletus.
Ong Leng Yauw berkisah pada Kwee Tek Hoaij bahwa letusan Gunung Krakatau yang menyemburkan gumpalan abu ke udara setinggi 70 kilometer, mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 40 meter, dan memakan korban sebanyak 36.037 jiwa ini diawali dengan suara gemuntur selama tiga bulan.
Kejadiannya tidak tiba-tiba, melainkan diawali gemuruh terus-terusan. Suara gemuntur itu juga menimbulkan banyak tanda tanya di kalangan warga saat itu.
Warga banyak yang mengirim telegram ke sana ke mari untuk menanyakan apa penyebab suara itu dan dari mana asalnya. Namun, tidak satupun bisa menjawab. Tidak jua ada yang menyangka bahwa gemuntur itu asalnya dari Karakatau yang akan meletus.
"Ketika berada setengah perjalanan itu suara gelegeran mendadak jadi begitu hebat dan turun abu dengan lebat dari udara, matahari tidak kelihatan, dan siang hari berubah jadi gelap gulita, hingga tangan di depan mata tidak bisa terlihat."
"Segala apa tertutup dalam kegelapan yang menakutkan. Selagi kita bingung dan tidak tahu mesti pergi ke mana, mendadak kedengaran suara gemuruhnya ombak, dan sebelumnya tidak bisa berdaya satu apa kita sudah tersapu dan terangkat naik ke atas."
"Apa yang kejadian lebih jauh saya tidak tahu, sebab di seputar saya sangat gelap petang. Saya coba tolong diri sendiri dengan berenang, dan akhirnya tersangkut di satu pohon kepuh, di mana saya berdiam akan menunggu surutnya itu air."