Negara-negara seperti Meksiko, India, Arab Saudi, Hungaria, hingga Polandia tercatat pernah terseret dalam penyalahgunaan Pegasus. Perangkat pengintai kelas militer ini mampu menginfeksi smartphone melalui metode zero-click exploit, di mana korban tidak perlu mengklik tautan apa pun agar perangkatnya berhasil diretas. Setelah terinfeksi, operator spyware bisa mengakses pesan WhatsApp, riwayat panggilan, lokasi GPS, hingga mengaktifkan mikrofon dan kamera secara diam-diam.

Jauh sebelum era smartphone, Amerika Serikat pernah diguncang skandal penyadapan politik terbesar dalam sejarah, yaitu Skandal Watergate pada tahun 1972. Kasus ini bermula ketika lima orang tertangkap basah membobol dan memasang alat penyadap di markas Komite Nasional Partai Demokrat yang berlokasi di kompleks bangunan Watergate, Washington D.C.

Penyelidikan mendalam mengungkapkan bahwa aksi penyadapan ilegal tersebut didanai dan diarsiteki oleh komite pemenangan Presiden Richard Nixon. Upaya penutupan kasus dan penyalahgunaan wewenang lembaga pemerintah untuk meredam investigasi akhirnya terkuak. Skandal ini menjadi begitu fatal hingga memaksa Richard Nixon mengundurkan diri dari kursi Presiden Amerika Serikat pada tahun 1974.

Pada tahun 2013, mantan kontraktor intelijen Edward Snowden membocorkan ribuan dokumen rahasia milik National Security Agency (NSA) Amerika Serikat. Pembocoran ini membongkar keberadaan program pengawasan massal seperti PRISM yang mengumpulkan data komunikasi telepon, email, dan aktivitas internet jutaan warga sipil secara global tanpa izin resmi pengadilan.