NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mendorong penguatan solidaritas jurnalis di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) untuk menghadapi tantangan perubahan teknologi dan era dominasi platform digital dalam ekosistem informasi.
Dalam sambutannya pada ASEAN Forum on the Protection of Journalistic Works in the Copyright Regime in the Digital Era di Tuban, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu, Komarudin mengatakan negara-negara ASEAN memiliki keragaman bahasa, budaya, sistem politik, sejarah, dan tradisi.
Meski demikian, negara-negara di kawasan tersebut menghadapi tantangan bersama dalam mempertahankan nilai publik jurnalisme di tengah perubahan teknologi.
"Jurnalis Asia seharusnya tidak hanya menjadi konsumen dari perubahan teknologi; kita harus berpartisipasi dalam membentuk perannya. Kita memerlukan ekosistem digital di mana inovasi dan jurnalisme dapat koeksistensi, platform digital dapat makmur, tetapi kreator tidak dieksploitasi," ungkapnya.
Menurut dia, perkembangan platform digital dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi sekaligus memunculkan persoalan mengenai keberlanjutan ekonomi industri pers.
Komarudin menilai, jurnalis tidak cukup hanya menjadi konsumen perubahan teknologi.
Jurnalis juga perlu terlibat dalam membentuk arah perkembangan teknologi agar tetap mendukung kepentingan publik dan memperkuat demokrasi.
"Mereka (jurnalis, red) turun ke lapangan, memverifikasi fakta, menyelidiki kekuasaan, menceritakan kisah, dan memberikan suara kepada mereka yang mungkin tidak akan didengar. Jurnalisme bukan sekadar profesi. Ini adalah layanan publik dan, dalam bentuk terbaiknya, merupakan pilar demokrasi," ungkapnya.
Ia menjelaskan, platform digital memungkinkan karya jurnalistik menjangkau masyarakat secara luas.
Namun, distribusi konten melalui platform tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai pembagian nilai ekonomi antara perusahaan teknologi, jurnalis, dan organisasi media yang menghasilkan informasi.
Persoalan itu semakin relevan dengan berkembangnya teknologi AI yang dapat memanfaatkan karya intelektual manusia, termasuk konten jurnalistik, untuk mengembangkan berbagai layanan dan menghasilkan informasi baru.
Komarudin mempertanyakan apakah jurnalis yang karyanya menjadi sumber pembelajaran sistem AI seharusnya ikut memperoleh bagian dari nilai ekonomi yang dihasilkan teknologi tersebut.
Menurut dia, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kepentingan ekonomi industri media, tetapi juga menyangkut etika dan keberlanjutan jurnalisme sebagai salah satu pilar demokrasi.
Karena itu, ia mendorong terbentuknya ekosistem digital yang memungkinkan informasi beredar secara bebas dengan tetap menghormati karya intelektual para penciptanya.
Teknologi, menurut dia, semestinya memperkuat demokrasi, bukan melemahkan institusi yang menopangnya.
Komarudin menegaskan, jurnalis di kawasan Asia perlu memperkuat kerja sama dan bertukar pengalaman untuk menghadapi perubahan lanskap media. Solidaritas regional dinilai penting agar kepentingan jurnalisme tetap diperhatikan dalam perkembangan teknologi global.
"Prinsip yang harus kita pertahankan itu sederhana: Mereka yang menciptakan nilai publik seharusnya mendapatkan bagian yang adil dari nilai yang mereka ciptakan. Oleh karena itu, forum ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar jurnalisme itu sendiri. Ini adalah percakapan tentang demokrasi, teknologi, ekonomi, etika, dan masa depan masyarakat kita," katanya.
Ia mengatakan, ASEAN Forum on the Protection of Journalistic Works in the Copyright Regime in the Digital Era memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membahas masa depan industri pers. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk mendiskusikan demokrasi, teknologi, ekonomi, etika, dan masa depan masyarakat.
Komarudin berharap forum itu dapat memperkuat solidaritas jurnalis ASEAN sekaligus menjadi wadah untuk merumuskan masa depan ketika teknologi melayani jurnalisme, bukan sebaliknya.
Ia mengajak peserta forum tidak hanya mendiskusikan masa depan jurnalisme, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam membentuknya.